Ketika Makan dan Tidur Malah Menghabiskan Waktu

Bismillahirahmaanirrahiim…

Bagi kita manusia makan dan tidur merupakan kewajiban yang harus dibayarkan, jika tidak dipenuhi tentu akan berdampak fatal pada aktifitas sehari-hari seperti ngantuk, ngantuk dan ngantuk lagi. 😀

Makan tiga kali sehari, tidur delapan hingga sepuluh jam sehari merupakan waktu yang sudah biasa dilakukan oleh orang kebanyakan, jika masih kurang kita masih bisa menambahnya, makan 6-7 kali sehari dan tidur 1×20 jam sehari. Wedew

Pernah dengar nama Imamul Haramain (Imam 2 Masjidil Haram, Mekkah-Madinah) yakni  Imam Al-Juwayni, pengarang matan (buku kecil) Al-waraqat fi Ushul Fiqh? Beliau tidak tidur dan tidak makan kecuali beliau benar-benar membutuhkannya.

Seperti perkataan Abdul Ghafar An-Narusy yang dikutip dari Imam Al-Juwayni, “ Biasanya aku tidak tidur dan tidak makan. Dan aku tidur jika memang sudah benar-benar ngantuk. Dan aku pun makan jika aku memang sedang bernafsu kapan pun itu. “Adapun kenikmatan hidupnya (Imam Al-Juwainy), hiburannya, jalan-jalannya adalah dalam menuntut ilmu dan mengambil manfaat dari apapun itu.”

Kemudian cerita tentang salah seorang ulama yakni Ibnu ‘Aqil, fuqoha Hanabilah. Ibnu Aqil lebih menyukai memakan roti yang dicampur dengan air, ketika ditanya kenapa begitu, karena beliau tidak ingin menghabiskan waktunya untuk mengunyah roti. Setelah roti tadi dicampur air beliau hanya tinggal menelannya saja.

Selanjutnya cerita Imam Nawawi, pengarang kitab Arbain Annawawi. Beliau tidak makan kecuali setelah Isya dan tidak minum kecuali sebelum Subuh. Beliau melakukan hal itu agar rasa ‘ngantuk’ tidak mengalahkan beliau ketika sedang menuntut ilmu.

Imam Syafi’I rahimahullah membagi waktu malamnya menjadi tida bagian. Sepertiga untuk belajar, sepertiga untuk ibadah dan sepertiga untuk tidur. Jika ditanya kapankanh malam itu dimulai? Malam itu dimulai dari waktu solat Maghrib menjelang hingga datangnya waktu solat Subuh.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah para ulama dalam perihal menjaga diri dari makan dan tidur secara berlebihan.

Aku pun pernah mendengar tentang bapak Alwi Syihab, yang mana beliau sudah dididik dari kecil hanya untuk tidur selama 5 jam sehari. Yakni dari pukul 10 malam hingga pukul 3 pagi.

Baca Juga : Tiga Manfaat dari Membaca Basmallah

Adapula kisah tentang bapaknya Buya HAMKA, Dr. Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan Inyiak DR (doktor). Beliau dalam keadaan apapun selalu terjaga dari tidurnya pukul tiga pagi, dan sudah mulai mendatangi mesjidnya.

Lalu bagaimana dengan aku dan kamu? Ketika makan berlebih, akhirnya ngantuk dan tidur. Ketika tidur berlebihan akhirnya banyak kerjaan yang tidak terselesaikan. Apakah kita akan tetap begini? Ketika nanti di Hari Perhitungan, jadwal harian lebih banyak diberikan kepada memenuhi nafsu perut dan tidur sepanjang hari.

Sadarlah, waktu itu ‘pendek sekali’. Seperti terjemahan pepatah Arab yang mengatakan, “Waktu itu ibarat pedang, jika bukan kamu yang memenggal waktu tersebut maka dia yang akan memenggalmu.”

Ini nasehat untuk diriku dan dirimu, semoga kita terlidung dari yang namanya menyia-nyiakan waktu.

Like dan Share jika dirasa bermanfaat. 🙂

 

Iklan