Ayahku dan Ayah…

 

Hari ini aku baru selesai menamatkan buku karangan oleh salah seorang anak ulama besar di Indonesia, ‘Ayah…’ karya Irfan Hamka. Buku yang menarik, walau tidak setajam ketika Buya Hamka menceritakan perihal tentang ayah kandungnya sendiri dalam buku ‘Ayahku’.

Dalam buku ‘Ayah…’ (memang judul asli diberi titik tiga diakhirnya) Irfan menceritakan tentang Buya Hamka dalam sosok beliau sebagai ayah. Aku kurang mendapati rasa keilmuan dan kepribadian Buya Hamka dalam buku tersebut, berbeda ketika Buya Hamka menuliskan tentang Ayahnya, Dr. Abdul Karim Amrullah. Dikarenakan mungkin, latar pendidikan Irfan Hamka, yang notabene, ditempuh dalam jalur pendidikan umum.

Sumatera Barat yang lebih terkenal akan sumber daya manusianya daripada sumber daya alamnya telah berhasil  menelurkan manusia-manusia berkualitas seperti Drs. Mohammad Hatta, Mr. Moh. Yamin, A.R Sutan Mansur lebih dikenal dengan Buya Sutan Mansur (mantan ketua PP Muhammadiyah), Buya Malik Ahmad (mantan wakil ketua PP Muhammadiyah) dan lainnya.

save0009Buya AR Sutan Mansur

Setelah bercerita sedikit tentang buku ‘Ayahku’ dan ‘Ayah…’, akan aku lanjutkan dengan cerita tentang ulama-ulama lainnya yang aku kagumi, didalamnya termasuk Buya Hamka dan Bapaknya, Inyiak DR.

Baca Juga : Doa Menanamkan Rasa Cinta kepada Keimanan

Yang pertama adalah seorang alim ulama yang sering kudengar dari mulut papaku, H. Rusjdi Malik Ahmad. Benar, beliau adalah anak kedua dari Buya Malik Ahmad dan juga menantu dari Buya AR Sutan Mansur. Pak Rusjdi (begitu beliau dipanggil) adalah lulusan Univ. Al-Azhar, Kairo jurusan Aqidah dan Filsafat.

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali nama Rusjdi Malik ini selalu keluar dari mulut papaku. Pak Rusjdi telah mendirikan sebuah pesantren di Lubuk Bonta, Pariaman yang diberi nama Pondok Pesantren Al Hidayah. Dan beliau juga mendirikan penerbitan Al-Hidayah, yang telah menerbitkan Tafsir Sinar karangan ayahnya, Buya Malik Ahmad. Dan juga menerbitkan terjemahan Tafsir Fii Zhilalil Quran oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb, yang awalnya diterjemahkan beliau dalam bentuk potong-potongan di dalam sebuah buletin yang dibagikan setiap solat Jum’at.

Sepulangnya Rusjdi Malik dari Kairo, singgahlah ia ke rumah mertuanya, Buya AR Sutan Mansur. Sesampainya di sana, Buya AR Sutan Mansur bertanya kepada Rusjdi Malik sambil menyodorkan sebuah Alquran, “Menurutmu Rusjdi, apa kesimpulan dari keseluruhan Alquran ini? Setelah sekian lama engkau menuntut ilmu di Mesir.” Berkeringat dinginlah Rusjdi Malik tidak dapat menjawab pertanyaan dari mertuanya ini. “Tidak Tahu Ayah Mertua,” jawab Rusjdi. “Kalau engkau bolak balikkan (membacanya dari awal hingga akhir.pen) Alquran ini maka bisa engkau simpulkan isinya adalah waaqiimuus sholata waaatuz zakaata. (Tegakkan oleh kamu solat dan datangkanlah oleh kamu zakat), Jawab Buya AR Sutan Mansur.

Pak Rusjdi sendiri adalah guru dari guruku ketika mondok  di pesantren, murid Rusjdi Malik itu bernama H. Masykur Misbah (yang nanti akan kutuliskan tentangnya). Dari Rusjdi Malik, guruku menimba ilmu kiranya lebih delapan tahun, seperti Imam Syafii yang menimba ilmu kepada Imam Malik selama kurang lebih sembilan tahun.

Dan kudapati juga informasi dari sang guru, H. Masykur Misbah bahwa Rusjdi Malik Ahmad sembilan tahun lamanya menetap dan menuntut ilmu di Kairo. Dan aku juga mendapati Rusjdi Malik Ahmad bersama dengan dua orang anaknya tengah berfoto bersama Buya Hamka di Kairo, Mesir. (Dan sayang file foto tersebut sudah tidak lagi ditanganku)

Rusjdi Malik Ahmad meninggal, dari info yang kutahu, pada tahun 1998. Aku pernah bersedih tidak punya kesempatan berbincang dengannya.

Baca Juga : 6 Alasan Kenapa Kamu Harus Bangga Menjadi Anak Indonesia

Yang kedua adalah, H. Masykur Misbah, ya beliau adalah guruku sendiri dan murid langsung dari Rusjdi Malik. Beliau pernah menjabat sebagai pembina, kepala sekolah atau mudir di pondok pesantren Diniyah Limo Jurai.

Kudengar cerita, ketika tahun 1998 disaat Madrasah Diniyah Limo Jurai sedang diambang kritis, pergilah para yayasan Diniyah Limo Jurai ke Ponpes Al-Hidayah, Lubuk Bonta meminta Ustad Masykur Misbah untuk pulang dan berkhidmat di kampung halamannya, Sungai Pua.

Yang menarik dari guruku ini adalah beliau orang yang tegas. Aku sudah menganggap beliau seperti ayahku sendiri.

Satu hal yang kukenang, beliau selalu menceritakan, setelah beliau menyelesaikan satu ilmu, beliau langsung membakar catatan tentang ilmu tersebut. Beliau berkata kepadaku, “Assa kalau ilmunya ingin melekat kuat dikepala, bakar bukunya.” Tidak lama setelah itu aku langsung mencoba membakar satu catatan Ilmu Shorofku yang telah kupelajari selama empat tahun, dan telah kuhapal sebelumnya. Rasanya bercampur aduk ketika melihatnya terbakar di depanku; antara bersemangat dan menyesal. Haha

Ust. Masykur hanya mengisi otaknya (menghapal dengan malakah : tidak akan pernah lupa) dengan beberapa disiplin ilmu agama (yang kutahu) : Ilmu Shorof (Ilmu Tata Bahasa Arab) dan Ilmu Nahwu (seperti grammar dalam Bahasa Inggris). Dua ilmu itu sudah melekat di kepalanya seperti halnya ketika ditanya 2 + 2 = 4, tidak perlu berpikir lakgi. Amazing!!

Beliau juga pernah belajar Bahasa Arab hingga lupa bagaimana caranya berbahasa Indonesia. Kisahnya sewaktu beliau pernah masuk rumah sakit, dan ketika akan berkomunikasi  dengan istrinya, istrinya tidak paham. Untungnya ada adik beliau yang tengah membesuk dan paham Bahasa Arab, yang mengerti apa yang diinginkan oleh kakak iparnya tersebut.

Yang ketiga adalah Dr. (HC) Abdul Karim Amrullah, beliau adalah ayahnya Buya Hamka. Salutku kepadanya tumbuh ketika telah selesai membaca buku karangan Buya Hamka ‘Ayahku’, yang menceritankan perihal tentang Dr. (HC) Abdul Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan Haji Rasul atau Inyiak DR (DR maksudnya adalah Doktor).

Inyiak DR lah yang memprakarsai berdirinya pondok pesantren Sumatera Thawalib Padang Panjang, yang mana dinamakan ‘Sumatera’ dikarenakan muridnya berasal dari ujung Aceh hingga ke ujung Lampung.  KH. Imam Zarkasyi salah seorang Tri Murti pendiri Gontor adalah alumni Sumatera Thawalib.

Gelar Doktor Honoris Causa (Gelar Doktor penghormatan) beliau dapatkan dari Univ. Al-Azhar, Kairo. Beliau lah orang pertama bersama sahabatnya, Dr. (HC) Abdullah Ahmad yang diberikan gelar Doktor Honoris Causa dari Indonesia oleh Al-Azhar, Kairo.

Dan yang terakhir adalah, Buya Hamka, nama lengkap Buya Hamka adalah  Prof. Dr. (HC) Abdul Malik Karim Amrullah. HAMKA adalah nama pena beliau ketika menulis. Banyak sudah karangan dan tulisan  yang lahir dari Buya Hamka, lebih seratusan.

Aku takjub kepada Buya Hamka setelah menamatkan buku karangannya, ‘Ayahku’. Sebelumnya aku juga pernah menamatkan ‘Tasawuf Modern’ dan sudah kutulis resensinya disini. Aku membacanya ketika aku masih duduk tahun kedua di kelas satu ‘aliyah, dan waktu itu aku belum begitu paham. Aku juga sudah menamatkan novel Buya berjudul ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck’ dan juga filemnya yang telah diangkat ke layar lebar. Begitu juga dengan filem ‘Dibawah Lindungan Ka’bah’.

Baca Juga : Tiga Cara Memulai Bisnis Bagi Pemula

Buya Hamka adalah salah satu manusia langka dalam menuntut ilmu. Beliau tidak menamatkan pendidikan formalnya, dari sekolah dasar, ketika Thawalib Padang Panjang dan Thawalib Parabek. Beliau langsung menuntut ilmu agama ke Mekah dan juga kepada ayahnya.

Yang aku kagumi dari Buya Hamka dari tulisan anaknya adalah ketika bagaimana Buya membangunkan anak dan keluarganya untuk melaksanakan solat Subuh. Buya juga sangat perhatian dengan solat berjemaah walaupun sedang safar atau dalam perjalanan. Dan juga kebiasaan Buya Hamka dalam membaca Alquran ketika menjelang tidur hingga datang kantuknya. Dan juga Buya Hamka bisa menghabiskan sekitar 5-6 jam untuk membaca Alquran perharinya.

Sempat aku menulis di status Fb ketika baru selesai membaca buku ‘Ayahku’ karangan Buya Hamka,

***

Setelah menamatkan buku AYAHKU karangan HAMKA, iseng2 mikir :

HAKA : Haji Abdul Karim Amrullah (bapaknya HAMKA)

HAMKA : Haji Abdul Malik Karim Amrullah

HASSA : Haji Assa Syafril Sain Al-Azhary.

Cuma karena belom naik haji, ya sudah cukup dipanggil ASSA saja.

***

Itulah para ulama di daerahku yang kukagumi. Setelah sampainya di Mesir, aku makin menemukan banyaknya ulama-ulama yang baik akhlaqnya dan menjadi teladan.

Bagi teman-teman yang ingin mengetahui tentang kisah-kisah para ulama-ulama zaman dahulu dapat menemukannya di dua kitab karangan Syeikh Al-‘Alamah Abdul Fattah Abu Guddah,

  1. Ash-shofahaat min Shobril Ulama’ (Lembaran Kisah Kesabaran para Ulama)
  2. Qiimatuz Zaman ‘indal Ulama. (Urgensitas Waktu disisi Ulama)

Sekian,

Silahkan klik share jika bermanfaat.

 

Iklan