Mencari Identitas Pemimpin Islami

Kabar-kabar yang terdengar dan sedang panas kali ini adalah tentang permasalahan kepemimpinan Islam versus kepemimpinan kafir. Dua hal yang berbeda dan tidak mungkin bisa disatukan. Yang satu dikubu Islam dan satu lagi di kubu kafir, kedua-duanya saling memiliki kepentingan dan ambisi. Dan pro kontra dalam memilih siapa yang layak dijadikan pemimpin selalu ada di tengah-tengah umat.

Berbicara masalah pemimpin, masyarakat Islam sudah lama mengetahui bagaimana kriteria pemimpin yang harus mereka pilih, sayangnya saat ini seluruh provokasi awak media berhasil mengkontaminasi sebagian pemikiran umat muslim di Indonesia. Dimulai dengan pencitraan hingga masalah kalimat, “pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zolim.” Pertanyaannya, siapa pemimpin muslim zolim yang mereka maksud?

Hingga keberbagai permasalahan yang seharusnya tidak ada menjadi timbul ke permukaan, seperti, “saya muslim dan saya pilih Ahok.” Dan belakangan diketahui bahwa yang menjadi ikon dari kalimat tersebut bukan seorang muslim. Entahlah, tapuk kepemimpinan sekarang ini menjadi sebuah ajang panggung sandiwara perebutan “alih dunia”.

Nah, supaya kita tidak rancu dalam mencari bagaimana sebenarnya tipe kepemimpinan islami, baiknya dulu kita cari makna dari arti “kepemimpinan” itu sendiri. Bundel (1930) : memandang kepemimpinan sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain mengerjakan apa yang diharapkan supaya orang lain mengerjakan. Dan salah seorang syaikhul Al-Azhar, syeikh Toha Hubaisy menukil dari Al-Aamadii, “Dan sebenarnya bahwa kepemimpinan itu adalah ibarat dari pengganti seseorang dari beberapa orang lainnya, dalam hal ini dia adalah pengganti Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam dalam penegakkan hukum-hukum syar’i (Islam.pen), dan menjaga kontrol agama dalam satu bentuk (tidak berpecah-belah.pen) yang mana wajib seluruh umat wajib mengikutinya.” Dan inilah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama ahli sunnah.

Dari dua pendapat di atas, kita dapat melihat korelasi yang nyata di antara keduanya. Bahwa kepemimpinan adalah merupakan bentuk seni untuk mempengaruhi orang lain. Dan dalam hal ini Syeikhna Toha Hubaisy lebih menitik beratkan kepemimpinan kepada seni mempengaruhi orang lain untuk menegakkaan hukum-hukum syar’i dalam kehidupan masyarakat, serta menjaga agar agama ini jangan terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok.

Beda lagi dengan Bundel (1930) yang menterjemahkannya secara general, tanpa mengarahkan arti dari kepemimpinan kepada sesuatu yang lebih khusus. Jika menyimak dari pernyataan Bundel, jikalau kepemimpinan ditapuk kepada non-muslim otomatis arah kepemimpinan akan diarahkan kepada kepentingan-kepentingan dari pihak non-muslim itu sendiri, dan secara tak langsung menyingkirkan Allah dan Rasul-Nya. Na’uzdzubillahi min dzalik.

Untuk lebih mempertajam bagaimana tipe pemimpin yang baik, disini kriteria beberapa pemimpin yang dipaparkan oleh syeikh Toha Hubaisy dalam bukunya, al-‘Aqidah fil Islamiyah taysir wa tahrir, juz tsalis di fasal raabi’, Al-imaamatul ‘Uzma :

  1. Dia adalah seorang mujtahid dalam permasalahan hukum-hukum syar’i (Islam). Dia adalah seorang yang bisa berfatwa dan menetapkan hukum, baik dari nash dan istinbath (mengambil sebuah hukum). Dikarenakan dari tujuan kepemimpinan dalam Islam itu adalah untuk memecahkan permasahan pertentangan dan mencegah adanya pertentangan. Oleh karena demikian itu syarat seorang pemimpin dalam hal ini adalah sebagai penyempurna.
  2. Dia adalah seorang yang berpandangan (memiliki pengetahuan.pen) tentang masalah perperangan, mengatur tentara, dan menjaga benteng. Karena dengan syarat ini seorang pemimpin bisa menjaga kenetralan Islam dan menjaga kekuasaannya.
  3. Dia adalah orang yang memiliki kekuatan yang kuat. Untuk menegakkan hudud, menghukum yang melanggar dan menyadarkan orang-orang yang berbuat zolim.
  4. Dia adalah seorang yang berakal, muslim, adil, tsiqoh dan wara’ secara tampaknya dan dipercaya perkataannya. Sehingga orang dapat percaya terhada apa yang dilakukannya. Dan dia dapat menjaga harta negara, dan memberikannya kepada yang berhak.
  5. Dia adalah seorang yang sudah baligh. Dikarenakan baligh adalah sebagai pertanda telah sempurnanya akal, kemuliaan dan pemikir.
  6. Dia adalah seorang laki-laki. Dikarenakan perempuan adalah makhluk yang berkekurangan.
  7. Dia adalah seorang yang merdeka. Karena hanya orang merdeka saja yang bisa melayani orang lain sebebasnya dan bisa menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang diembannya.
  8. Dia adalah yang taat pada aturan. Dikarenakan pelaksanaan hukum adalah dalam wilayah kekuasaannnya sehingga dia mampu membentak orang yang tidak taat aturan.
  9. Dia adalah orang yang selamat panca indranya; pendengaran, penglihatan, ucapan…

Dan jika kita perhatikan dari salah satu syarat diatas, kita dapat melihat syarat mujtahid pada syarat diawal, itu bisa dijadikan sebuah kemutlakan jika dia adalah pemimpin bagi umat muslimin. Dikarenakan ini adalah syarat yang langka bisa didapati didalam kepemimpinan. Dan syarat ini terkadang hanya bisa didapati dari satu diantara sekian ribu orang.

Kemudian setelah kita dapati kriteria yang seyogyanya dipenuhi oleh seseorang yang ingin memimpin sebuah wilayah; baik negera atau yang lebih kecil daripada itu. Maka syarat ini juga didukung oleh hadis yang diriwayatkan oleh Hakim, dari Rasulullah saw, “Siapa yang mengangkat seseorang untuk mengelola urusan (memimpin) kaum Muslimin, lalu ia mengangkatnya, sementara pada saat yang sama dia mengetahui ada orang yang lebih layak dan sesuai (ashlah) daripada orang yang dipilihnya, maka dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al-Hakim)

Semoga Allah Ta’ala selalu menjaga Indonesia dan penduduknya, dan selalu diberkahi dengan pemimpin-pemimpin yang selalu membela dan melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala

*oleh Assa Dullah Rouf, Mahasiswa Strata Satu Univ. Al-Azhar, Kairo. Tulisan ini telah dipresentasikan pada kajian ISLAMMU Mesir, 18/03/2016.

Iklan