Cara Imam Asy-Syafii Membagi Waktu Malamnya

image

Diriwayatkan oleh Qodhi ‘Iyadh dalam kitabnya “الإلماع إلى أصول الرواية و تقييد السماع” dengan sanadnya kepada Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Murâdi, murid dari Imam Asy-Syafii, Imam Asy-Syafii lahir tahun 150 H dan wafat tahun 204 H semoga Allah merahmatinya : ((Bahwa Asy-Syafii telah membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian : sepertiga awal pertama untuk menulis, sepertiga bagian kedua untuk solat dan sepertiga terakhir untuk tidur))

[Kitab Qīmatuz Zaman ‘indal Ulamā’, karya  Al-‘alamah Al-Murabbi Asy-Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah]

Saya bertanya kepada  salah seorang senior saya di Al-Azhar, “kapan waktu malam ulama itu dimulai?” beliau menjawab, “dimulai dari masuknya waktu solat maghrib.”

Jika waktu solat maghrib dihitung dari pukul 6 malam dan waktu solat subuh pada pukul 5 pagi, maka bisa dikatakan ulama membagi waktu mereka kira-kira menjadi 3,7 jam perbagiannya; 3,7 jam untuk menulis, 3,7 jam untuk solat dan 3,7 jam terakhir untuk tidur, itupun untuk kondisi waktu di Indonesia, yang mana pergeseran waktu  (jarak antara) terbit dan terbenam mataharinya tidak terlalu jauh dan berbeda disetiap bulannya.

Dapat kita lihat bagaimana para ulama dahulunya membagi waktu mereka sedemikian detailnya, hingga waktu malampun benar-benar mereka pergunakan dengan sangat baik.

Terkadang banyak yang terkecoh hanya dengan memfokuskan diri pada ‘pembagian malam’ oleh para ulama, tanpa menyadari bagaimana mereka memamfaatkan ‘waktu siangnya’. Kaidahnya gampang, jika malam-malam mereka dibagi sedemikian rupa sehingga mengurangi -kata kita- jatah tidur mereka, apalagi di waktu siangnya, tentulah para ulama sangat berdisiplin dalam menggunakan waktu setelah matahari terbit tersebut.

Mungkin tidak akan benar-benar kita temui yang namanya waktu istirahat dalam kehidupan para ulama terdahulu. Sejatinya mereka telah ‘ikhlas’ dalam menuntut ilmu, sehingga Allah Ta’ala panjangkan umur mereka dalam karangan-karangan yang bertahan hingga berabad-abad hingga milenium lamanya.

Semoga Allah Ta’ala lindungi diri kita dari berbagai macam bentuk maksiat, yang pada akhirnya menghalangi nur (cahaya) ilmu-Nya untuk sampai kepada diri kita.

Iklan