Dauroh Lughoh Al-azhar; antara Uang dan Pembelajaran.

image

Entahlah, apakah saya benci untuk mengatakannya atau tidak. Namun saat ini saya benar-benar tidak bisa menulis secara objektif.

Universitas Al-azhar Kairo dengan segala keruwetannya. Saya tidak menghina, hanya mengungkapkan fakta. Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat hati saya mendidih, kenapa tidak, pasalnya adik saya sendiri -setelah tes penempatan- harus memulai tahapan dauroh lughoh (les bahasa) di Al-azhar dimulai dari level paling dasar atau bawah,
mubtadiu awwal.

Saya ikut sedih lantaran ini, soal saya tahu dengan kemampuannya yang selalu mendapatkan peringkat 3 besar selama di ‘Aliyah, dia saharusnya mendapat lebih. Sewaktu saya menjemputnya diakhir ormaba PPMI di kampus Al-azhar, sambil berjalan dan bercerita, tampaklah lelehan air mata yang mulai berjatuhan. Sedih, sangat sedih sekali. Memang saya pribadi bisa merasakannya, disaat dia selalu berada diatas dan kali ini terpaksa harus berada dibawah teman-temannya.

Pulang, itu kata-kata yang tidak ingin saya dengar darinya. Pulang ke Indonesia mungkin bisa menjadi pilihan yang sangat buruk saat ini. Selain telah menghabiskan uang, juga akan menyia-nyiakan waktu setahun kedepannya. Bersabar, mungkin itu satu-satunya jalan untuk saat ini.

Disaat saya dahulu, tes memang diadakan di Indonesia; tahap satu dan tahap dua (dan semuanya lulus kuliah tanpa perlu mengikuti dauroh lughoh). Tapi untuk tahun ini, tes tahap dua diadakan di Mesir. Saya dengar pihak pengetes dari dauroh lugoh meminta bayaran 50$ per anak jika tes dilaksanakan di Indonesia, sedangkan jika dilaksanakan di Mesir, diminta biaya tes 50 le, atau setara delapan puluh lima puluh ribuan lah kira-kira.

Entah apalah ulahnya, seolah-olah mereka menjadikan ini usaha untuk mengumpulkan uang dari dauroh-dauroh yang ada. Saya sering mendengarkan adik-adik KMM yang ikut menghembuskan nada-nada kekecewaannya ketelinga saya. Apapun itu, saya benar-benar tidak suka dengan sistem ini.

Selain itu dauroh lughoh ini juga memiliki 7 level, Mubtadi’ Awal, Mubtadi’ Tsani, Mutawassith Awal, Mutawassith Tsani, Mutaqaddim Awwal, Mutaqaddim Tsani dan yang terakhir adalah Mutamayyiz. Kalau saya tidak salah, disetiap tingkat atau levelnya harus membayar kira-kira 700 le, atau setara dengan sejuta dua ratus enam puluh ribuan.

Yang saya lihat hari inipun, rata-rata mereka adik-adik baru 15/16 harus memasuki dauroh lughoh. Saya hanya bisa ketawa dengan sistem yang seperti ini, padahal di perkuliahan kita tidak membayar uang kuliah, kecuali uang untuk keperluan kita pribadi, seperti diktat, pengurusan visa, kerneh atau kartu pelajar, pengurusan minhah atau beasiswa, dll.

Saya tidak membenci Al-Azhar, saya hanya membenci sistem pengelolaan anak-anak baru saat ini. Saya mencintai Al-Azhar dan manhajnya.

Akhirnya bisa berkata apa, yang ada dijalani saja. Kita tidak tahu mana yang terbaik. Untuk adik saya, pribadi saya hanya bisa mengucapkan sepatah kata yang mudah untuk diucapkan dan berat untuk dilaksanakan, yakni sabar, fashobrun jamiilun, maka sabar itu indah.

Bagaimanapun, dimanapun, pasti banyak suka dukanya. Terlebih di luar negeri, disaat jauh dari tempat mengadu, ekonomi yang campur aduk, bahasa yang berbeda dan inilah yang pada akhirnya membuat hidup kita menjadi lebih bewarna. In syaa Allahu khair.

Iklan