Mengambil Keputusan; Antara Fakta dan Opini

fact_or_opinion

Seringkali dalam hidup kita memandang suatu hal dari suatu sudut pandang tertentu dan kemudian berpegang teguh dengan hal tersebut. Tanpa kita sadari acap kali sudut pandang ini terkadang menjadi sebuah pilihan yang salah. Yang pada akhirnya membuat kita berada pada kondisi jumud tiada henti.

Hal-hal yang ikut serta mempengaruhinya ketika kita akan mengambil keputusan adalah penentuan antara apakah itu merupakan sebuah fakta atau opini. Ketika suatu permasalahan datang, tibalah kita diminta berjuang untuk mengambil sebuah keputusan. Apakah sebuah keputusan itu berasal dari sebuah jalan logika yang benar atau hanya berdasarkan tindakan emosional sesaat. Disanalah kemudian penentuan fakta dan opini menjadi penting.

Fakta adalah suatu pendapat yang diambil secara logik, objektif dan benar adanya. Sedangkan opini adalah suatu pendapat yang keluar dari pribadi seseorang terhadap sebuah kejadian atan sesuatu. Saya tidak akan membahas tentang fakta dan opini dilihat dari sudut pandang sastra, akan tetapi lebih mendekati kepada fakta dan opini yang terjadi dalam benak manusia.

Untuk lebih simpelnya saya contohkan begini,

“Kamu lebih baik menikah dengannya, dia adalah pasangan yang cocok/terbaik untukmu.”

“Untuk menghasilkan uang, maka kita membutuhkan uang.”

“Rajinlah belajar maka kamu akan kaya.”

“Aku tidak sanggup untuk melakukannya.”

Kalimat-kalimat di atas adalah dalam bentuk opini –akan bagus jika anda sudah memahami apa itu opini sebelumnya- yang sering mempengaruhi jiwa-jiwa manusia secara tidak langsung. Manusia akan mulai bertindak tanpa ragu ketika mendengar opini-opini di atas, ditambah lagi bila “emosional” mereka mulai menguasai untuk mengambil sebuah keputusan. It’s bad.

Mulai paham? Ketika anda akan mengerjakan suatu pekerjaan dan disana akan tampak dua macam peluang, antara mulai bekerja menurut “fakta” atau menuruti “opini” yang anda buat.

Contoh 1:

Ketika seorang ibu menyuruh anaknya untuk mengerjakan pr atau tugas rumah, yang mana ini adalah sebuah fakta dan memang adalah suatu hal yang semestinya dikerjakan oleh anak tersebut. Kemudian anaknya membalas dengan alasan, “aku capek mengerjakannya”, dan ini adalah bentuk opini yang mempengaruhi dirinya (si anak), dengan beranggapan dirinya tengah capek mengerjakan tugas rumah tersebut, yang mana secara faktanya dia harus mengerjakan tugas rumah tersebut.

Contoh 2:

Disaat seseorang mengatakan kepadamu, bahwasanya dirimu pantas atau lebih cocok untuk menikahi perempuan tersebut, karena dia mengatakan kamu lebih cocok dengannya. Dan kalimat demikian merupakan sebuah opini yang diluncurkan oleh orang tersebut kepadamu. Pada “fakta”nya, kamu memang tidak cocok dengannya yang berakhir dengan tidak berjodohnya dirimu dengan dirinya.

Dan betapa banyak opini-opini yang terus bergelantungan dalam kehidupan ini, kemudian mempengaruhi seluruh tindakan-tindakan kita yang pada akhirnya menghantarkan kita kepada kemerosotan produktivitas. So, dengan demikian membedakan fakta dan opini  juga menjadi salah satu bagian terpenting dalam mengambil keputusan, right?

Kairo, 1 September 2015.

Iklan