Lebaran Kisruh

Berapa hari ini umat Muslim di Indonesia dihebohkan dengan peristiwa pembakaran mesjid di Tolikara, Papua. Saya serasa bosan saja dengan keributan-keributan yang selalu terjadi di Indonesia, yang seolah-olah tidak akan pernah ada habisnya.

Beberapa hari saya acuh saja dengan peristiwa tersebut. Namun beranda wall Facebook selalu dipenuhi share-an para pengguna fb tentang peristiwa penyerangan atau pembakaran mesjid di Tolikara tersebut. Mau bersifat “diam” karena tidak ingin mencari masalah atau “bersuara” karena lebih banyak mamfaatnya?

Ketika presiden bicara toleransi terhadap mereka yang dizholimi, rasanya gimana gitu. Sudah biarkan saja. Enak aja lu.

Itulah Indonesia, ketika telah terjadi keributan atau kekacauan baru dimulai mencari sebuah antisipasi. Kira-kira begitu kalimat yang terlontar dari salah seorang guruku dahulu ketika di MTs.

Mesjid merupakan pondasi pertama dimulai suatu peradaban Islam. Ketika mesjid hilang, hilanglah jema’ah. Ketika jema’ah hilang maka hilanglah power atau kekuatan umat muslim di daerah tersebut.

Ketika di sebuah daerah tidak ditegakkan solat jema’ah maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah seluruh daerah itu akan dikuasai setan. Pikir saja apa imbasnya kedepan.

Entahlah, saya tidak abis pikir kenapa mesjid itu habis ludes dibakar. Apakah mesjid itu mendatangkan mudarat kepada mereka umat ber”agama” lainnya sehigga harus dibakar? Coba pikir, tidak ada satupun alasan mereka yang bisa dibenarkan atas pembakaran mesjid tersebut.

Jika mesjid itu memberikan dhoror/mudarat kepada umat lainnya itu bisa dibicarakan baik-baik. Dan jikalau mesjid itu memberikan dhoror/mudarat kepada umat Islam khususnya dikarenakan mesjid itu dibagun atas dasar sebagai tempat pengintaian kegiatan umat Islam seperti yang telah terjadi di masa penjajahan Jepang dahulu, tidak mengapa, malah umat Islam itu sendiri yang akan turun tangan.

Alasan speaker yang membuat ribut? Halaah 2 kali setahun mereka umat Islam bertakbir mengangungkan Tuhan mereka di kawasan luar teras Mesjid lantas dihakimi. Musy maul ya amm. Tidak masuk akal.

Semoga mereka menerima ganjaran atas perbuatan mereka.

*****iklan*****

image

Tidak terasa sudah memasuki hari ketiga lebaran Id Fitri. Masih setia mengamati pengunjung yang keluar masuk toko dan juga para pemudik dalam dan luar Sumbar. Pastinya tetap menikmati setiap momen yang terjadi. Walau belum sempat bertemu banyak sanak saudara, setidaknya berkumpul dengan keluarga kecil ini sudah merupakan kebahagiaan terbesar yang telah Allah anugrahi. Alhamdulillah.

Eh lupa, Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.
Selamat hari raya Id Fitri, mohon maaf lahir dan batin. 🙂

Iklan