Berkeras Diri

Tuuut……….

image

Kira-kira seperti itulah hidup yang sudah hampir sebulan kujalani pasca imtihan atau UAS 3 Juni 2015. Tepat 10 Juni sorenya aku memulai perjalanan mudik menuju kampung halaman.

6 hari di Jakarta, Bandung dan Bogor. 16 Juni kaki ini resmi mnginjak kota Padang. Dan tengah malamnya kusampai di surga kehidupan. Kulihat Ibu dan bapak, adik-adik serta dinding-dinding rumah tidak banyak yang berubah. Yah, baru 8 bulan, itu merupakan waktu yang singkat untuk mencoba memperlihatkan progres apa yang telah kudapatkan.

Permasalah yang kuhadapi di kampung halaman masih sama dan itu-itu saja. Setiap planning tidak berjalan sempurna, mencoba mengevaluasi apa yang salah, ternyata tetap; masih belum mampu untuk keras terhadap diri sendiri. Sekarang sudah 2 Juli, kurang 2 bulan lagi aku disini. Terus apa?

Hanya berusaha untuk mencoba bersyukur setiap waktu dan dalam setiap keadaan. Semuanya ini nikmat dari Allah Ta’ala. Dalam semua gerak dan tempat, yang bisa kulakukan hanya bertasbih memujinya. Orang tua, adik-adik, teman-teman, harta, ilmu dan banyak hal lainnya yang pada akhirnya membuatku terus mencoba untuk bersyukur disetiap waktu. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…

Keras terhadap orang lain memang gampang dan yang paling susah itu keras terhadap diri sendiri.

Itu perkataan yang selalu diulang-ulang oleh bapak kepadaku. Benar tidak? Benar 100%.

Bisakah? Ketika diriku mencoba untuk membentuk suatu kebiasaan baik yang baru, disana aku harus keras untuk mengusahakan serta mulai mengorbankan hal-hal yang dapat menghalanginya.

Pastinya banyak hal yang mengganggu; mulai dari keadaan, tempat, waktu dan pekerjaan. Disana dibutuhkan suatu evaluasi setiap harinya; mulai dari evaluasi target serta proses yang telah dilalui.

Semoga Ramadhan kali ini semakin berkah dan bisa memaksimalkan dalam setiap ibadah.

Iklan