Masuk Pesantren, Anda Harus Kaya Dulu

picture4

Pesantren di Indonesia memang sudah dikenal sebagai sarana atau tempat pencetak kader umat penerus estafet dakwah dan penelur para calon-calon ustaz. Berbagai macam model pesantren yang ada di Indonesia dan memiliki visi serta misi yang berbeda-beda. Dan saya sempitkan pembahasannya dengan jenis pesantren yang mengkhususkan kepada jurusan keagamaan dan yang akan menelurkan calon penerus ustaz masa depan.

Kenapa harus kaya? Yang biasanya sebagian masyarakat awam melihat pesantren dengan pengertian “bahwa pesantren adalah suatu tempat penampungan anak-anak bandel biar bisa cepat tobat dan jadi anak yang patuh pada ibu bapaknya”. Lihat, betapa sempitnya pemikiran tersebut. Baiklah kembali pada pertanyaan awal, kenapa harus kaya? Disini akan saya ajukan beberapa alasan yang mendukung:

1. Pesantren adalah Tempat Pendidikan yang Mahal

Memang tak diayal, pesantren adalah sebuah lembaga yang mengurusi seluruh kegiatan anak anda selama 24 jam perhari, 7 hari seminggu. Istilahnya full dedication yang diberikan oleh guru pesantren, baik pikiran dan waktunya (bahkan sampai kantong-kantongnya ikut terseret) untuk membesarkan anak anda; menjadikan anak anda sebagai insan mandiri dan berakhlak pribadi yang baik serta memiliki wawasan Islam yang luas dan benar.

Lah coba pikir, dengan 3 tujuan diatas (menjadikan anak anda sebagai insan mandiri dan berakhlak pribadi yang baik serta memiliki wawasan Islam yang benar), dimana anda akan mendapatkan sebuah pendidikan non-stop dengan biaya yang sangat murah? Ini mesti anda renungi kembali, ketika anda berpikir untuk mendapatkan pendidikan berkualiatas dengan biaya yang murah.

Oke masih berhubungan dengan poin diatas, kenapa mahal? Bayangkan, anda menitipkan putra-putri anda disebuah lingkungan pesantren dengan tanggungan biaya sbb: uang biaya pendidikan sekolah, diberi makan 2 atau 3 kali sehari, pasta gigi, sabun, air ledeng, listrik dan sangat banyak lagi. Lah coba pikir, dengan fasilitas sedemikian rupa anda berharap untuk membiayai hanya dengan bermodal Rp. 500,000,-?/bulannya? Coba anda hitung kembali, biaya makan anda perhari berapa biasanya? Taruhlah biaya anda untuk sekali makannya Rp. 5000,- per/satu kali makan, dikali 3 kali sehari berarti total perbulannya adalah 3×5.000×30 hari = Rp. 450.000,- lah uang pendidikan sekolahnya yang sekitar Rp. 150,000,-/bulannya mana? Uang listiriknya, sabun cucinya, sabun mandi, pasta gigi, uang air ledeng dan lain-lainnya mau didapat darimana coba?

Jadi jangan pernah menganggap bahwa pesantren adalah sebuah tempat pendidikan “murah meriah” dengan hasil “kualitas sempurna”, mimpi anda bung?

2. Pesantren (Jurusan Keagamaan) Menelurkan para Ulama Berilmu dan Berwawasan Agama.

Dari poin yang kedua ini lantas apa hubungannya dengan harus kaya? Saya bukan bermaksud berpikiran materialistik, bukan. Sini saya jelaskan. Secar riil saja, berapa banyak lowongan pekerjaan yang dibuka bagi mereka para sarjana atau lulusan dari institusi pendidikan agama? Kantor Depag, MUI, dosen, guru pengajar disuatu sekolah, kemudian apa lagi? Memang ada yang berbisnis di travel dan umroh, membuka pondok tahfidz, dll. Cuma saya masih bertanya, apakah itu mencukupi? Dengan ribuan lulusan sarjana dalam dan luar negeri pertahunnya, apakah sarana lowongan pekerja di atas tersebut mencukupi?

Disanalah saya mulai meminta kepada para orang tua untuk berpikir, yang telah memasukkan anak-anaknya kedalam sebuah lingkungan pesantren dan mendambakan anaknya akan menjadi seorang ustaz, tolong pikir kembali. Setelah mereka lulus lantas anda berlepas tangan? Oh, malang sekali nasib anakmu.

Lantas apa yang mesti dilakukan? Mulailah para orang tua merintis suatu usaha bagi anaknya, sehingga ketika sang anak pulang ia telah memiliki sebuah usaha rintisan dari orang tuanya. Berdagang? Why not, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam dan sebagian besar para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah pedagang, dan 9 dari 10 pintu rezeki juga terdapat di perdagangan.

3. Ingat, Kewajiban Anak Anda adalah Untuk Berdakwah, Menyampaikan Kebenaran dan Mencegah Kemungkaran.

Sekarang kita lihat lagi, seorang anak jebolan pesantren jurusan sebuah sekolah agama atau universitas agama natinya pasti akan banyak melakukan seruan dakwah; baik dakwahnya dalam bentuk formal (institusi pemerintahan, dll) dan atau informal (berceramah, dll).

Memang itu sebuah kewajiban yang tidak bisa dipungkiri. Sekarang apa hubungannya dengan kaya? Coba anda pikirkan ketika anak anda sedang mendapatkan kewajiban untuk pergi berceramah menyampaikan ilmunya kepada para jemaah solat, lantas ketika sampai dan ia duduk diatas kursi di depan hadapan jemaah, kemudian mulai berceramah tiba-tiba di tengah ceramah dia berpikir, “anak dan istriku nanti di rumah makan apa ya?” pikirkan, bagaimana kualitas ceramahnya ketika seorang da’i berceramah sembari memikirkan bagaimana nasib anak dan istrinya yang belum makan di rumah?

Selanjutnya pernah dengar ini, “dakwah itu malakik paruik litak” (dakwah itu sampai perut lapar), kalimat yang sering diungkapkan bapak saya kepada saya. Bagaimana maksudnya? Seorang penda’i atau ustaz hanya akan sanggup berkoar-koar ketika perut mereka sudah terisi. Lah ketika perut mereka mulai kelaparan? Tidak satu patah kata pun yang akan keluar. Coba anda bawa posisi sedemikian rupa kepada diri anda sendiri dan anda akan paham apa yang saya maksud. JIka anda orang tua dari anak anda yang sanggup untuk mebiayai keperluan dakwahnya dan memberikan infaq untuk istrinya dan cucu anda, bayangkan fokus anak anda (da’i) dalam menyampaikan risalah-risalah kebenaran kepada para jemaah solat.

Tidak itu saja, kita lihat sekarang dari sudut pandang jemaah yang tengah mendengarkan ceramah dari sang da’i, saya pernah mendengarkan kisah begini dari guru saya:

Begini ceritanya, jadi kebetulan ustaz saya tengah menghadiri suatu ceramah dan duduk bersama jemaah yang lainnya, dan kebetulan telah ada da’i yang sedang duduk berceramah. Ketika sedang duduk itu, ustaz saya mendengarkan salah seorang jemaah nyeletuk, “ah ustad itu pergi ceramah hanya untuk mengumpulkan uang demi melunasi kredit motornya aja itu.” Otomatis ustaz saya terkejut mendengar celetukan dari salah seorang jemaah yang demikian rupa. Lah jemaah yang diberikan ceramahnya saja sudah berpikiran seperti itu kepada da’inya, bagaimana dakwah bisa tersampaikan coba?

Sekarang coba pikirkan, jika saja sang da’i itu datang pergi berceramah dengan menunggangi Alphard atau Fortuner (mobil mewah dengan harga 1 milyaran dan 500 jutaan keatas), kemudian setelah selesai berceramah sang da’i juga membagikan uang kepada jemaah solat yang hadir, dengan keadaan demikian apakah dakwahnya akan dianggap remeh? Apakah dakwahnya akan dianggap isapan jempol belaka? Sama sekali tidak. Betapa banyak kita lihat sebagian orang kaya bukan ustaz yang kata-katanya hambar tidak bermakna lebih didengarkan daripada seruan kebenaran dari seorang da’i/ ustaz.

Esensinya bukan demikian, cuma memang ini kenyataan yang ada saat ini. Membagikan uang kepada jemaah bukan dalam wujud pemborosan. Apakah anda pernah berpikir bahwa jemaah solat yang anda beri seruan juga ada dari kalangan fakir miskin. Bagaimana anda akan menyuguhkan sebuah ceramah kepada orang yang tengah dirundung kelaparan? Seharusnya anda kenyangkan perut mereka terlebih dahulu, baru kemudian anda sampaikan seruan yang anda miliki.

Masih ada berbagai alasan yang berputar, cuma kali ini saya cukupkan tiga poin diatas. Saya tahu ini adalah suatu “keidealan”, dan ideal itu adalah sesuatu yang mana banyak orang mengatakan mustahil untuk ada. Dan yang diminta kepada kita adalah untuk megadakan usaha atau berusaha menuju keidealan tersebut.

Disini saya tidak menyebutkan larangan kepada kaum fakir atau miskin untuk menyekolahkan anaknya ke pesantren, yang saya minta hanya untuk berpikir logis. Bagaimana nasib anak anda kedepannya. Memang Allah Ta’ala sudah mengatur rezeki setiap diri manusia, tapi toh ini hanya prediksi sebagai antisipasi untuk masa depan anak anda.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan langkah kita dan dipertemukan dengan orang-orang soleh yang sama-sama berjuang nantinya untuk kemaslahatan rakyat Indonesia khususnya dan umat Islam pada umumnya.

Iklan