Kesabaran Para Ulama : Pelajaran dari Kisah Sayyidina Adam alaihissalam

Sh.AbdulFattahAbuGhudah

BAGIAN PERTAMA

Berita Tentang Keletihan, Kesusahan dan Melalui Perjalanan Panjang dalam Menuntut Ilmu

                Dan saya memulainya dengan berita tentang sayyidina Adam ‘alaihissalam, bapaknya sekalian manusia. Dari perjalanannya dalam menuntut ilmu dan mendapatkan apa yang diperintahkan padanya dengan belajar dari para malaikat yang mulia.

Kemudian saya lanjutkan dengan kisah tentang sayyidina Musa ‘alaihissalam, para sahabat radhiyallahu ‘anhu dan para ulama yang mulia.

  1. Diriwayatkan dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahihnya, dan lafaz dari Imam Muslim berbunyi : ((Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda : Allah ‘Azza wajalla telah menciptakan adam dalam bentuknya (tidak seperti proses penciptaan manusia setelahnya.pen), tingginya 60 hasta, maka setelah diciptakan Allah berfirman kepadanya, pergilah lalu beri salam kepada kelompok itu -mereka adalah sekelompok dari malaikat yang sedang duduk- maka dengarkanlah jawaban mereka kepadamu, itulah salam penghormatan bagimu dan anak cucumu kelak, maka ia (Adam) berkata : Assalamu’alaikum, mereka membalas : Assalamu’alaika warahamatullahi, dengan tambahan : Warahmatullahi. setiap orang yang akan masuk surga nanti adalah seukuran nabi Adam, dan manusia terus menerus berkurang ukurannya semenjak Adam hingga menjadi seperti sekarang ini)).

Ulama berkata dalam syarah hadis ini : sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam: (Pergilah lalu beri salam kepada kelompok itu, mereka adalah sekelompok dari malaikat yang sedang duduk, maka dengarkanlah jawaban mereka kepadamu), dalam hadis ini ada isyarat bahwasanya mereka berada agak jauh dari Adam ‘alaihissalam, dan juga dalil disunnahkannya berusaha untuk menuntut ilmu, dan bahwasanya nabi Adam ‘alaihissalam adalah orang pertama yang berusaha untuk menuntut ilmu sesuai dengan kandungan hadis yang mulia ini.

(Diterjemahkan dari buku Shofahaat min shobril Ulama; ’ala syadaidil ilmi wattahsil, karangan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah, halaman 33, cetakan Darus Salam, Kairo)

Diterjemahkan oleh : Ibnu Syafril dan Muhammad Rosyad (Mahasiswa Univ. Al-Azhar, Kairo)

Bila terdapat salah, salah dari kami dan harap koreksiannya.

Iklan