Aku hanya Mahasiswa Biasa

Aku hanya mahasiswa biasa yang tidak luput dari dosa. Kemana-mana hanya membawa diktat untuk dibaca.

Aku hanya mahasiswa biasa yang jarang membaca. Membaca media saja tidak, hanya bisa facebookan untuk mendapatkan berita.

Aku hanya mahasiswa biasa yang jarang bicara. Bicara aja susah, apalagi untuk disuruh berdemo di depan masa.

Aku hanya mahasiswa biasa yang kurang suka menulis. Menulis makalah ilmiah saja malas apalagi diminta untuk berpikir kritis.

Aku hanya mahasiswa biasa yang ingin hidup tenang. Tenang sedemikian rupa, lupa kalau umat sedang hidup terbuang.

Aku hanya mahasiswa biasa yang tidak ingin ikut campur urusan orang. Orang-orang tengah sibuk berjuang, kita hanya mikirin kapan orang tua bakal ngirimin uang.

Aku hanya mahasiswa biasa yang tengah belajar. Belajar aja sukar, sukanya hanya menghabiskan waktu untuk berkelakar.

Aku hanya mahasiswa biasa yang sedang ditimpa kegalauan. Galau dalam tindakan, sampai mati pun tidak punya pencapaian.

Aku hanya mahasiswa biasa yang lagi kasmaran. Kasmaran dalam percintaan, belum kepikiran ternyata ada orang tua yang harus diutamakan.

Aku hanya mahasiswa biasa yang hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan dalam berperan, walau hidup sudah ditindas tetap aja tersenyum tanpa beban.

Aku hanya mahasiswa biasa yang…………………….

Aku hanya………………….

Aku…………….

Ya AKU adalah indvidualis, yang hanya ingin menyelamatkan diri sendiri. Sudah “bosan” bertindak, walau nyatanya hanya bisa diam seribu bahasa.

Ya AKU adalah seorang apatis, tidak peduli dengan nasib bangsa. Lantas kalian mau apa? Aku punya hidupku sendiri. Bangsa keadaannya mau seperti apapun terserah, asal perutku masih bisa kenyang, bagiku tidak ada masalah.

Ya AKU adalah……. AKU adalah……..

*********

Jujur, aku tidak punya almamater apapun untuk kubanggakan. Jas-jas kalian yang berwarna terkadang membuatku iri. Sorakan-sorakan kalian dimana-dimana membuat jiwa ini terbakar dalam panasnya derai api semangat. Dan aku, aku hanya bisa menyaksikan kalian dari kejauhan, membaca tulisan-tulisan yang beredar. Berharap keadaan kalian disana baik-baik saja.

Maafkan aku, aku hanya bisa menulis seperti ini, yang mungkin tidak sebanding dengan aksi dan tindakan heroik yang telah kalian lakukan. Sebenarnya diriku belum terbiasa bertindak begini, cuma kutahu kalian tengah butuh siraman semangat untuk mengobarkan api perjuangan.

Terkadang diriku pusing mau berbuat apa, karena nyatalah “AKU” itu bagaimana. Memikirkan nasib keluargaku di kampung saja sudah membuatku khawatir, belum lagi memikirkan nasib bangsa yang beratus-ratus juta jiwa banyaknya.

Untuk pemerintahku yang disana, kuyakin mereka juga bertindak sepenuh hati, karena memang tidak ada kenyamanan dalam yang namanya memegang tampuk amanah. Cuma kekecewaan itu biasa terjadi, tuntutan rakyat yang datangpun pasti datang silih berganti. Mungkin pemberian kejelasan dari pemerintah terhadap rakyat atas apa yang terjadi, sudah akan memberikan sebuah titik terang bagi kami.

Namun cukup sudah, mahasiswa sekarang sudah cukup pintar untuk memprediksi. Mereka tahu apa yang bakal terjadi. Karena tindakan mereka itu nyata atas dasar cinta mereka terhadap ibu bapak, keluarga, saudara-saudara, guru-guru, sahabat dan bangsa Indonesia itu sendiri.

Aku hanya bisa berharap agar nasib bangsa Indonesia bisa kembali membaik. Serta juga berdoa agar Allah meridhoi atas bangsa Indonesia ini baldatun thoyyibatun wa Robbun ghofur.

logo

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!!

Iklan