Ceritanya Cerpen

Ceritanya lagi coba-coba bikin cerpen, eh akhirnya jadi kayak curhatan. 🙂

cek it…

Musim semi 2012

Musim semi 2012

Seketika udara musim dingin Kairo masih menyelimuti pekatnya malam, masih terdengar suara bisikan kecil mengalir halus dari mulutnya. Sambil ditemani lampu kecilnya dia asyik bergumul dalam kemesraan bersama Tuhannya. Sebut dia Abi, teman sekamarku yang paling cepat tidurnya dan paling cepat bangunnya.

“Gregetan, oh aku geregetan..”, alarmku berbunyi pertanda waktu Shubuh telah masuk. Mata ini masih terasa berat untuk digerakkan dan kulihat gelap malam masih terasa pekat untuk menyentakku. Kugerakkan tangan dan mulai konsen memecahkan beberapa pertanyaan agar bisa mematikan alarm ponsel sok pintar yang ingin membangunkanku.

Air masih terasa dingin untuk dibelai, sakhonah pemanas air masih menunjukkan angka 34 pertanda bahwa diriku harus ikhlas untuk berwudhu menggunakan air yang dinginnya menusuk ini. Dan, blashh… siraman air itu berhasil mengusir setan-setan yang bergentayangan.

Sambil mengambil handuk, kulihat masih ada temanku yang masih setia memeluk erat selimutnya dan tidak akan bangun keculi dengan belaian sang Matahari. Entahlah terkadang diriku bingung siapa yang jadi Tuhannya.

Kuambil kopiah, jaket dan kaus kaki. Kupasang erat-erat kebadan dan berharap bisa melawan hawa dingin ini. “Allahuakbar.. Allahuakbar, Asyhadu alla ilaha illallah..” Iqomahpun menyeru, aku bergegas berlari menuju masjid, berharap masih bisa mendapatkan takbir rakaat pertama bersama sang imam.

“Gimana keadaanmu hari ini Hasan?’’ Seseorang menyapaku dari belakang.

“Alhamdulillah baik bang”, aku menjawab sambil berjalan beriringan menuju pintu keluar masjid.

“Bang nanti ada Talaqqi dengan syeikh Fauzi bukan? Kitab Mulhatul I’rab?”, tanyaku padanya.

“Iya ada, bakda Zuhur insya Allah. Hadirlah, ini pertemuan kali pertama bersama beliau”, jawab senior yang satu kekeluargaanku denganku ini.

Sebut dia Wali, seniorku yang berperawakan tinggi sedang dan selalu terlihat rapi dengan tampilannya. Celana dasar yang selalu dikenakannya menjadi imej bahwa dia seorang yang tengah menuntut ilmu agama. 30 Juz Al-Quran sudah bersarang dikepalanya. Tidak ayal dia sudah bisa fokus untuk menghafal matan-matan yang dipelajarinya dalam setiap pertemuan Talaqqi.

Berbeda denganku, hanya celana jeans yang selalu setia menemaniku. Perawakan yang layaknya preman ini tidak menampakkan jati diriku sebagai penuntut ilmu agama. Jadi teringat kisah dengan seorang Nigeria yang kutemui di bus saat perjalan dari Darrasa menuju Rab’ah.

“Kamu kuliah di Al-azhar? Jurusan apa?”, Tanya orang Niegeria tersebut tanpa basa-basi.

“saya di Fakultas Ushuluddin”, jawabku singkat.

Sambil melirik kearaku dan memperhatikan pakaianku orang Nigeria tersebut berujar,

“kamu di Ushuluddin koq pakaiannya begini? Seharusnya kamu memakai pakaian Jalabiyah yang menunjukkan bahwa kamu seorang anak yang tengah berkuliah dijurusan Agama.”

Aku hanya mengiyakan dan pembicaraanpun terputus, karena tempat pemberhentianku sudah tampak. Sambil berjalan kaki diriku bertanya, apakah segitunya pakaian mempengaruhi stigma seseorang terhadap kita, melihat dari zohirnya tanpa terlebih dahulu memeriksa diri orang tersebut dan masa lalunya.

*************

Kusabet Al-Qur’an yang sedang berada diatas rak bukuku. Target hafalan satu halaman per hari mesti bisa kupenuhi. Target yang kadang yang seperti layang-layang putus, terkadang tidak berjalan seperti yang direncanakan. Hampir menjelang pukul delapan pagi, satu halaman dari permulaan surat Ali Imran berhasil kusantap dan kuendapkan dikepala. Selanjutnya kuambil handuk yang kering mengeriput dan bergegas menuju kamar mandi.

Kuberlari, pukul sembilan lewat sudah menghampiri. Telat, kata-kata itu yang selalu berteriak dalam kepalaku. Mata kuliah tasauf ini tidak boleh terlewatkan, mata kuliah penting ini memang harus dihadiri, tanpa itu memahami muqorror atau diktat kuliah ini akan terasa berat.

Duktur tengah asyik menerangkan, kemudian kuketuk pintu dan minta izin masuk sambil bergegas mengambil posisi tempat duduk. Kulihat kesekelilingku, tiga orang mahasiswa Indonesia yang hadir dari total puluhan mahasiwa yang satu jurusan denganku di lokal ini.

Memang tidak ada kewajiban untuk datang kuliah. Cuma terkadang ketika berdiskusi dengan temanku kadang kubertanya, “Kalau tidak kuliah dipagi hari, mau apalagi coba, tidur seharian tanpa menghasilkan apapun. Itu sebenarnya yang membuat letih.”

*************

Disaat jadwal Talaqqi atau pengajian bentrok dengan jadwal organisasiku, disitu kadang diriku merasa sedih. Telebih-lebih lagi jadwal kegiatan organisasi yang bentrok dengan kuliah, diriku lebih memilih kuliah dan mengorbankan agenda acara organisasi tersebut.

Entahlah, sukses studi sukses organisasi tampaknya menjadi sebuah tujuan nyata yang sulit untuk dikejar.

“Yuk kita pergi talaqqi”, sapa Ahmad kepadaku.

“Aku lagi ada agenda nih di Gamik”, Balasku.

“Sudah, korbanin aja. Ini talaqqinya penting loh, masalah Nahu.” kata Ahmad meyakinkanku.

Dengan sifat yang melankolis ini kadang diriku menjadi bimbang antara memlih talaqqi atau organisasi karena kedua-duanya mempunyai keuntungan yang berbeda. Cuma kupikir lagi mana yang lebih aulawiyat atau utama antara keduanya; tujuanku ke Mesir adalah untuk menuntut ilmu dan “Siapa yang tidak tahan dengan lamasanya satu jam belajar maka bersiaplah untuk menjadi orang bodoh seumur hidupnya’.

Akhirnya, pilihanku jatuh kepada Talaqqi. Segera kukejar Ahmad, dan kuberkata,

“Ayo kita pergi”.

************

Dingin malam sudah menusuk seluruh raga badanku, perjalanan malam pulang dari Talaqqi ini membuatku badanku bergetar untuk meredam dinginnya malam. Ini masih mending ujarku, ketimbang perjalanan malamku pulang menuju rumah dari Hay-Asyir ke Darrasah. Satu jam umurku habis dilahap dengan duduk tenang diatas bus. Harus gonta-ganti tremco yang membuat badanku terasa tersiksa. Itulah kerugian seorang aktifis yang tiggal di Darrasah.

“Belum tidur, Bi?”, kuheran yang biasanya dia tidur cepat kini belum lagi.

“Iya bentar lagi San”, sahutnya.

Kehidupan mahasiswa di Mesir memang terkesan bebas, kita bisa menentukan waktu tidur seenaknya. Mau tidur pukul delapan, dua belas, satu pagi, sampai setelah Subuhpun terserah. Dan itu yang menjadi rumit bagi mereka yang tidak memiliki disipin waktu semenjak dari pondoknya. Balance, atau perihal membagi waktu adalah hal yang paling penting ketika kita hidup sebagai mahasiwa di Mesir ini, tanpa itu, kita perlahan akan hancur dalam menikmati fananya kebebasan yang tak berujung ini.

Kubentangkan selimut dan mulai membaca tiga qul. Kulanjutkan dengan do’a sambil merebahkan badan keatas empuknya belaian kasur. Sambil memejam mata, kubayangkan seluruh kegiatan yang akan kuhadapi esok hari. Setelahnya, kalimat-kalimat Subhanallah menhantarkan arwahku entah kemana sebelum dikembalikan dikeesokan harinya.

Iklan