Resensi Tasauf Moden oleh HAMKA

Tasauf_Moden_4d3510032fc57

RESENSI

Judul Buku                : Tasauf Moden

Pengarang                  : HAMKA

Penerbit                      : Darul Nu’man

Tempat Terbit           : Malaysia

Ketebalan Buku        : 363 halaman + 20 halaman pembuka

Sinopsis

Tasauf Modern adalah salah satu karya Hamka yang memuat kehidupan rohani manusia dilihat dari sisi tasaufnya.Buku ini membahas tentang kebahagiaan manusia dan pengaruhnya dalam kehidupan baik bagi kesehatan fisik maupun pada kesehatan rohani. Hamka banyak mendefenisikan kebahagiaan dalam bukunya ini dengan pendapat para ahli, filosof dan sufi. Namun pada akhirnya Hamka berpendapat bahwa segala sesuatu di dalam alam ini baik dan buruknya bukanlah pada zat suatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tinggi rendahnya akal kita, seperti yang termaktub di dalam hadist Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam tentang urgensitas akal dalam keinginan untuk mencapai dunia dan akhirat. Apa gunanya pena emas bagi orang yang tidak pandai menulis, apalah harganya Al-Qur’an bagi seorang atheis atau apalah arti berlian bagi orang gila. Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan itu kita mencapai bahagia yang sejati.

Setelah itu Hamka juga menjelaskan ketidak efektifan akal tanpa adanya Iradah (kemauan) dalam mencapai kebahagiaan, Apatah guna akal yang hebat dan tinggi tapi tidak memiliki kemauan untuk bisa mencapai kebahagiaan, seperti pernyataannya, “bertambah besar iradah, bertambah dekat bahagia bertambah lembik iradah, bertambah jauh bahagia”.

Kemudian Hamka juga melanjutkan dengan “dari apakah tersusun anasir bahagia”, disini Hamka lebih menitik beratkan kepada apa yang diberikan oleh Imam al-Ghazali, 1. Bahagia akhirat, 2.Keutamaan akal budi, keutamaan yang ada pada tubuh, 4.Keutamaan dari luar badan, 5.Keutamaan yang datang lantarataufik dan pimpinan Allah.

Lalu pada tulisan selanjutnya Hamka mulai menjelaskan akan urgensi agama dalam kehidupan dan memang sangat tidak bisa kebahagiaan itu dicapai tanpa agama. Dikarenakan agama dapat menimbulkan 3 sifat yang selalu menjaga dan mengarah kepada kebaikan bagi seseorang itu dalam kehidupannya, yaitu 1.Malu, 2.Amanat (boleh dipercaya), 3.Shiddiq atau benar.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan Hamka tentang keutamaan otak dan keutamaan budi.Yang mana kebahagiaan otak Dapat membedakan antara jalan mulia dengan jalan hina.Dan adapun keutamaan budi ialah menghilangkan segala perangai-perangai yang buruk ,adat istiadat yang rendah, yang oleh agama telah dijelaskan mana yang mesti dibuang dan mana yang mesti dipakai. bahawasanya yang dapat mengalahkan manusia dalam mencapai keutamaannya sebagi manusia adalah nafsu dan juga letak keikhlasan manusia ketika berbuat, apakah dia ikhlas terhadap semua aspek perbuatannya ataukah tidak..

Dan seterusnya Hamka menjelaskan tentang anasir yang ke-empat tentang kesehatan jiwa dan kesehatan badan yang mana musti seimbang diantara keduanya.Kemudian hamka juga menyebutkan nasehat untuk memelihara kesehatn jiwa dan badan serta bagaimana juga untuk mengobati jiwa yang lemah yang terkena penyakit-penyakitnya.

Di anasir ke-lima Hamka menjelaskan tentang urgensitas kekayaan serta pengarahan dalam mendapatkannya dan juga pilihan prioritas dalam pemenuhan kebutuhan dengan kekayaan itu sendiri.

Selnjutnya Hamka terus menambahkan dari selain anasir-anasir diatas, yaitu qana’ah, qana’ah yaitu menerima dengan rela apa yang ada, memohonkan kepada tuhan tambahan yang pantas dan berusaha, menerima dengan sabar akan ketentuan Tuhan, bertawakkal kepada Tuhan dan tidak tertarik oleh tipu daya dunia. Qana’ah inilah yang mana menjadi sebab kebahagiaan bagi umat terdahulu, dengannya tidak terjadi perbedaan sosial; kaya sangat, kaya, miskin dan betul-betul miskin.

Terakhir Hamka melengkapi syarat-syarat yang mesti dipenuhi yaitu dengan tawakkal, yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, iktiar dan usaha kepada Tuhan semesta alam.Kemudian dilanjutkan dengan penceritaan bagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh Rasulullah.Dan juga tentang bagaimana penggunaan akal dalam menanggapi penciptaan alam, yang mana keindahannya seharusnya menjadi tanda-tanda bagi manusia untuk selalu bersyukur kepada-Nya.

Setelah puas berbicara tentang bagaiman itu bahagia dan apa yang dibutuhkan untuk mencapainya, Hamka tidak lupa meberikan kontraversi dari bahagia itu sendiri, dan Hamka merangkumnya dalam 3 perkara: 1. Pendapat akal yang salah, 2. Rasa benci, 3. Mengundurkan diri.

Dan pada akhirnya, ditutuplah karya ini dengan bermunajat kepada Ilahi.

Kesimpulannya adalah Hamka mencoba mengubah paradigma kita tentang tasauf. Tasauf yang biasa diindentikkan dengan berpakaian yang lusuh, pasrah, mengasingkan diri, tidak beristri, bahkan sampai mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, menyumpah harta, tidak mencari rezki, membelakangi permasalahan duniawi, benci akan kedudukan, sehingga ketika musuh Islam datang tidak ada lagi senjata untuk menangkis kedatangan mereka seperti yang kita saksikan di kota Baghdad, Irak.

Islam tidak seperti itu, zuhud yang seperti itu bukanlah bawaan Islam.Semangat Islam adalah semangat berjuang, berkorban, bekerja, bukan semangat malas-malasan, lemah dan pasrah.Islam adalah agama yang menyeru ummatnya encari rezeki dan mengambil kemuliaan, ketinggian dan keagungan.

Buku ini menggambarkan bahwa kehidupan dunia juga penting untuk mencapai ma’rifatullah.Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa untuk bahagia kita harus punya harta benda, punya kelebihan tubuh, banyak family, punya keturunan yang baik-baik dan taufik. Sekilas terlihat duniawi sekali tapi apa kita bisa bersedekah tanpa adanya harta, apa mungkin kata-kata kita didengar orang kalau kita tidak terpandang dan banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain.

Jadi tasauf lebih kepada membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekan segala kelobaan dan kerakusan dan yang paling terbesar adalah memerangi syahwat demi ketenangan jiwa.

Metode dan Pendekatan

            Dalam buku ini Hamka menulis dengan metode deduktif,Hamka member wacana mum tentang tasauf pada bagian pertama dan menguraikan secara khusus pada bab-bab berikutnya. Hamka juga mengklarifikasikan setiap permasalahan dalam tema-tema tertentu.

Adapun pendekatan yang dipakai oleh Hamka cukup luas, Hamka mencoba pendekatan historis (kesejarahan), antropologis, sosiologis, kebudayaan dan filosofis.

Hamka mendefanisikan tasauf dengan malihat asal-usul kata sufi itu sendiri dan melihat kehidupan kenapa para sufi muncul pada saat itu (pendekatan sejarah), kemudian melihat praktek sufi itu sendiri pada masyarakat (pendekatan antropologi), kemudian melihat gejala sosial yang timbul dengan adanya tasauf ini (pendekatan sosiologis), kemudian melihat kebudayaan yang berkembang saat ini dan pada masa dahulu (kebudayaan), dan barulah Hamka mencari dan menyimpulkan hakikat tasauf tersebut (pendekatan filosofis). Hamka juga memberikan pengertin dengan analogi yang sangat dekat sekali dengn kehidupan sehari-hari.Sehingga karangannya inipun mudah dimengerti.

Kelebihan Buku

Dalam buku ini Hamka banyak memberi contoh dan hikmah dalam buki ini, ia tidak langsung menghakimi seorang sufi itu seperti apa, tapi lebih pada membeberkan kepada pembaca seperti apa pendapat filsuf dan ulama Islam tentng sufi itu sendiri kemudian secara perlahan-lahan Hamka membuka logika kita dan mulai merujuk kepada satu pendapat. Sehingga pembaca tidak terkesan dihakimi atau didakwahi.Jadi wajar buku ini masih diterbitkan berulang-ulang hingga kini dikarenakan mamfaat yang didapatkan dari buku ini.

Ditambah judul tasauf modern yang membuat para pembaca terpancing untuk mengetahui bagaimana bentuk tasauf ala modern.Tasauf yang dahulunya hanya dihubungkan dengan suluknya orang-orang terdahulu dan menjauhi kehidupan dunia, sehingga menjdi pertanyaan apakah ada konsep tasauf modern itu pada saat ini? Sehingga kita bisa, buku ini terus dicetak berulang-ulang tidak hanya dalam edisi bahasa Indonesia dan juga dalam edisi bahasa Malaysia. Disini terbukti akan eksistensi dan implementasi buku Tasauf modern di tengah kehidupan ini.

Kelemahan Buku

Diawali dari bacaan yang berbahasa malaysia, menyebabkan agak sulit untuk menangkap makna yang dimaksud. Peresensi lebih merekomendasikan untuk membaca dalam edisi bahasa Indonesia sehingga bisa ditangkap apa yang dikehendaki penulis.

Iklan