Lari dari Setengah Rahmat Allah

295560_10152630896670258_1741848995_n

Hari ini dimulai dengan mendengarkan lantunan Al-Quran yang penuh penghayatan, setidaknya ini yang aku harapkan terjadi disetiap harinya. Pagi yang indah akan menyingsingkan lengannya dan mendekapku dengan penuh makna. Waddhuha, demi waktu dhuha. Yaa Allah berilah pemamfaatan kepada diri kami dan ridhailah setiap langkah kami dalam mendekatkan diri kepada-Mu.

Biarlah setiap hari berlalu dalam hangatnya mencintai-Mu, Tuhanku. Jangan biarkan kami mati diam tanpa ada pertahanan dari godaan syeitan yang terkutuk.

Ingin bercerita tentang apa yang kurasakan dalam hidup disaat aku mulai menyia-nyiakan hidupku dari-Mu. Bangun dalam ketergesaan mengejar dunia yang fana, berkeluh dalam nikmat yang telah Engkau berikan dan kikir dari setiap rahmat yang telah Engkau titipkan kepada kami.

Penyesalan pastinya akan selalu menghiasi hidupku, dari dulu hingga sekarang. Aku iri kepada mereka para ciptaan-Mu yaa Allah. Berilah satu waktu saja kepada kami untuk bisa mengabdi “lebih” kepada-Mu. Mungkin “tawaan” yang akan kami dapatkan setelah Engkau berikan semua maaf-Mu kepada kami. Dan kamilah yang lalai dari melihat “pengingat-Mu” wahai Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Berkarya, adalah kata yang selalu didengar oleh telingaku disetiap waktu. Apakah setiap proses yang kami lalui tidak patut untuk dibanggakan? Aku tahu, bahwa setiap sesuatu yang bergerak pasti akan mencapai suatu peningkatan dalam perjalanan hidup mereka. Dan aku, masih diam dan memanut kembali beribu perencanaan yang telah pernah kubuat.

Apakah diriku pernah kufur dari rahmat-Mu? Ketika Engkau telah memperingatkanku setiap harinya, memperhatikan diriku setiap waktunya dan Aku minta ampunan dari setiap kelalaian ini. Jika ada rahasia yang ingin kubagi maka inilah dia. Hanya bisa tersenyum disaat diriku menjadi hina dan melupakan “kasih sayang-Mu’’ kepadaku.

Jika setiap jurnalku dikembangkan dari ujung timur sampai keujung barat maka yang akan engkau temukan adalah ribuan kata penyesalan tiada henti. Dan aku benar-benar mencintaimu wahai Rabbku. Aku rindu kepada-Mu dan Rasul-Mu. Aku berdiam diri tanpa perlawanan ketika melakukan seluruh hal yang dapat memalingkanku dari diri-Mu. Terkadang aku lengah dan sengaja melengah disaatku “seakan-akan’’ lupa dengan keberadaan-Mu. Ampunilah dosa-dosa kami yang selalu tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu.

Apa lagi yang kurang? Tidak ada, semuanya telah tercukupi, hanya tinggal diriku yang diminta untuk bersyukur dalam setiap tindak tandukku. Bersyukur kembali disaat Engkau masih memberikan kesempatan untuk bisa hidup setiap harinya. Bersyukur untuk nikmat kecukupan berlimpah yang tidak mungkin bisa kudustai.

Disaat hidup ini hanya didasarkan untuk bisa hidup menyembah kepada-Mu, Engkau kembali memperlihatkan keagungan-Mu yaa Rabb. Engkau memerintahkan kepada kami untuk berbuat baik kepada kedua orang tua kami agar kami bisa melihat besarnya “kasih sayang-Mu” yang melebihi mereka berdua, mereka yang telah menjadi wasilah untuk munculnya kami kedunia ini.

Berilah kami kemampuan untuk bisa memahami tanda-tanda-Mu wahai Rabb Semesta Alam. Tunjukilah kami jalan menuju “rahmat-Mu yang tak Terbatas’’.
Jum’ah Mubarakah, 5 Desember 2014.

Iklan