Penyesalan dalam Sepi

295560_10152630896670258_1741848995_n

Gelap malam menghiasi waktu sepi. Suara hembusan angin panas mengalir lembut membelai raga nan dingin ini. Satu persatu bebanku mulai jatuh pertanda sang mentari akan mulai menghampiri.

Kutergolek lemas tak berdaya. Bukan karena sakit atau lainnya, akan tetapi karena memenuhi tong bawaan yang mulai rusak.

Sedihkah? Pertanyaan suram yang tidak bisa kujawab kini. Setiap penyesalan bertubi-tubi datang menuntut kekalahanku. Kudiam, kurapatkan jari jemari sehingga membentuk kepalan dan kukatakan, “aku bisa berubah, aku bisa menjadi yang terbaik dan Allah disisiku”. Allah, kalimat apa yang telah kuucapkan. Ucapan janji yang bermakna. Hampa bila tidak terlaksana.

Setiap sendiku mulai berteriak, “mari kita dirikan solat, mari kita dirikan solat”. Akan tetapi raga ini mulai melemah. Kusoroti ruangan gelap ini dengan tatapan hampa. Kutatapi jari-jemari yang sudah mulai lemas tak bertenaga.

Dan sampailah pada aku. Kupejamkan mata pertanda ini semua akan berakhir. Tidak, masih ada waktu. Masih ada harapan dan perjalanan nan panjang masih menantimu.

Kairo, 3 Juni 2014

Iklan