Mau Berkuliah Sampai Kapan Dik?

Sarjana

Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk menuntut ilmu? Tidak, tidak. Lebih tepatnya seperti ini, berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk bisa menamatkan pendidikan strata satu kalian? Sampai umur berapa kalian akan menghabiskan waktu untuk “tetap terus” menuntut ilmu; yah mungkin disini kita batasi sampai dengan jenjang S1.

Iseng-iseng ingin bertanya. Mungkinkah bakal ada diantara sahabat WPers yang bakal menjawab? 🙂

Dari dulu saya pribadi selalu dihantui dengan pertanyaan ini (emang pertanyaan punya wujud? :D, kalau enggak itu berarti apa dong? :D). Mungkin tidak disayanya saja. Mungkin banyak juga diantara para mahasiswa yang ingin mengajukan pertanyaan serupa yang kira-kira maknanya hamper mirip dengan pertanyaan diatas (jujur deh, iyakan, iyakan? :D).

Mungkin diusia 24 atau 25 tahun adalah batas maksimal untuk bisa menamatkan jenjang pendidikan sarjana strata satu. Ya, ya saya sepakat bahwa tidak ada batasan dalam menuntut ilmu. Cuma sekarang kita dituntut untuk berfikir apa tantangan yang akan kita hadapi kedepannya.

Bagi mereka yang menamatkan pendidikannya dibawah usia dua puluh lima tahun, dan langsung melanjutkan dengan mencari pekerjaan, bisa dipastikan mereka memiliki waktu yang panjang untuk meningkatkan ekonomi serta kesajehteraan finansialnya. Dan juga ditambah dengan “karir” hifupnya. 🙂

53141575

Lah, sekarang yang jadi permasalahan adalah bagi mereka yang menamatkan pendidikanya diatas umur maksimal usia S1 yakni dua puluh lima tahun (Batas tersebut saya yang mengeluarkan :D). Kapan mereka akan memulai perekonomiannya dan mulai membangun masyarakatnya coba? Belum lagi bagi mereka yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi yakni jenjang pascasarjana dan jenjang doktoral.

Oke, mungkin kondisi perkuliahan program pascasarjana dan doktoral di Al-azhar, Kairo berbeda dengan universitas-universitas yang ada di Indonesia; dalam hal menyelesaikan program tersebut. Jika di Al-Azhar membutuhkan waktu kira-kira 4-10 tahunan untuk menyelesaikannya, dan belum termasuk program doktoral. Sedangkan di Indonesia rata-rata mahasiswa pasca sarjana mungkin bisa menyelesaikan pendidikannya dalam kurun waktu 2-5 tahun saja.

Jika di universitas Al-Azhar kita menyelesaikan program sarjana pada umur 23 atau 24 tahun dan dilanjutkan dengan program pasca sarjana kira-kira sekitar 8 tahunan walhasil umur 32 tahun baru dapat terselesaikan. Lah kalau ditambah lagi dengan program doktoralnya Al-azhar yang memakan waktu sekitar 2 atau sampai 5 tahunan, totalnya baru diusia 35 atau 37 tahunan anda dapat meraih “gelar doktor” Al-azhar tersebut.

Azhar 4

Jangan serius amat bacanya. :D. Ini Cuma tulisan seorang anak tingkat dua kuliah yang insya Allah akan naik ketingkat tiga. (Do’anya qaqa. J)

Saya sering membicarakan hal tersebut dengan kedua orang tua, kakak kelas dan teman-teman seperjuangan yang saya cintai. Problemanya mulai datang disaat anda menamatkan “masa perkuliahan” diatas usia 30 tahun. Dan disinilah awal diskusi dimulai.

Yah, bagaimanapun yang namanya “kaya” tidak bisa dinafikan dalam kehidupan. Bagaimanapun situasi dan keadaan anda. Anda nyaman dengan apa yang anda punya. Bukan memelas, meminta apalagi sampai meminjam-minjam sana sini.

Anda juga pernah memikirkan ada saatnya anda akan memiliki pasangan. Nah, disinilah dimulai seluruh petualangan dan kehidupan nyata anda tersebut.

Disaat anda mencari sesuap nasi untuk dimakan dan disedekahkan. Dimana tangan ini sudah berat menerima infaq dari uluran tangan kedua orang tua. Itu semua adalah saat dimana anda mulai merasakan “usaha” untuk bisa “bertahan hidup”

Back to topic, anda berfikir untuk mulai merintis usaha sesegeranya setelah menyelesaikan pendidikan anda pada usia 30 tahunan keatas. Nah pertanyaannya, umur berapa usaha anda akan “mulai” membesar dan kapan anda akan merasakan yang namanya “kemapanan”?

It’s problem. Okey, if you said that Allah Ta’ala gave us what we needed. Masalahnya itu semua tidak akan bisa terwujud sebelum ada usaha yang dimulai dari diri anda sendiri. Sekarang semua terserah anda inginnya bagaimana.

*********************
Sinyal televisipun terputus. Haha 😀

Semoga bisa diambil kesimpulan dari tulisan saya diatas, dan berbagi sedikit “pemikirannya” bagi tunas yang baru tumbuh dan belum merasakan “pahitnya” dunia. 🙂 🙂

#Latepost *Saya hanya bisa tertawa ketika membaca tulisan ini kembali. Tulisan ini sebelum saya resmi di tingkat 3 Universitas Al-Azhar, Kairo. Dan mari berbagi. 🙂 Smilee..

Iklan