Aku dan Indonesia II : Aku dan Memori Pikiranku

10409133_10152741839867328_8230980688294232341_nJreng, jreng… Akhirnya sang waktupun bergegas menghantarkanku kepenghujung akhirnya. Sudah saatnya diriku bergegas mempersiapkan diri untuk kembali lagi ke bumi kinanah. Rentetan tanggal yang terdapat di kalender dinding itu mulai menghantuiku. Dua puluh delapan hari waktu yang tersisa untuk bisa kembali menikmati masa-masa “menyenangkan” di indahnya pemandangan surga dunia-kampung halamanku ini.

Berjuta kali pikiranku berusaha merangsang diri ini untuk bisa kembali merangkai kata-kata unik diatas layar laptop . Merasakan kembali jari jemari ini menari-nari indah diatas lantai tuts-tuts keyboard. Demi mereview ulang seluruh kegiaatanku selama berada di negeri Zamrud Khatulistiwa.

Pemikiranku selama ini terkuras habis dimakan oleh “berusaha mendatangkan zakat”. Yah, dalam arti kata diriku selalu berpikir dan berpikir bagaimana bisa upaya mengembangkan tingkat perekonomianku kedepannya dengan sebaik mungkin. Memikirkan akan menjadi apa esok harinya; jadi apa, seperti apa dan apa saja langkah-langkahnya. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi disetiap harinya tanpa takut harus menegapkan badan ketika berjalan dan berdiri tegak menatap masa depan.

Diriku dipenuhi dengan kepalsuan. Ketakutan menghadapi hari esok menjadi problema mengerikan yang mesti dihadapi. Seluruh cita-cita ini mulai tergambar jelas di dalam benakku. Seluruh pemikiran yang mengawang-mengawang selama ini sudah mulai bisa kukerucutkan menjadi langkah nyata yang akan kujalani.

Pola pikir yang seharusnya tumbuh disaat aku menginjakkan kaki dijenjang akhir strata satu kini sudah kumulai. Percepatan ini menjadi suatu kelebihan yang bisa kusyukuri adanya. Disaat mereka yang lain tengah “terlena” dari memikirkan masa depannya aku kini sudah beranjak melakukan aksi nyata untuk menyonsong hidup yang indah gemilang. Semoga Allat ta’ala memudahkan langkah kita demi mencapai ampunan serta maaf-Nya.

H-28 Menuju Kairo.

Iklan