Aku dan Indonesia : Jakarta Kota Pelabuhanku

Akhirnya setelah menunggu satu setangah tahun diri inipun bisa kembali menginjakkan kaki di negeri Zamrud Khatulistiwa. Banyak sudah yang terjadi selama penantian “kepulangan” ini :). Sesampainya di Indonesia entah kenapa akupun merasa malas untuk bisa kembali menulis. *padahal sebelumnya lagi kecanduan 😀

 

Mungkin untuk lebih gampangnya, ceritaku di Indonesia kali ini akan dibagi kepada beberapa part. 😀 (seperti Cinta Fitri saja)

1. Part one : me and Jakarta

Setelah pesawat Qatar itu mendarat di Jakarta akupun langsung dijemput oleh ibunda tersayang. Di dala, perjalanan aku bisa merasakan kenikmatan pemandangan hijaunya ditemani juga dengan berbagai macam bentuk dan ragam manusia Indonesia. 🙂

Tidak ada yanglebih Indah selain Indonesia, bisikku dalam hati. Setelah bermalam di sebuah hotel, paginya ibu dan diriku berpergian menuju kawasan Tanah Abang. Tahu apa yang kutemukan? Kutemukan disana berbagai macam manusia yang ”penuh nafsu” berusaha untuk mengumpulkan harta. Pemandangan yang sangat jarang kutemukan di Mesir sana. Mereka seolah berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta dunia. Mengerikan, itu perasaan yang timbul setelah aku menatap mereka dengan seksama.

Di Pasar Tanah Abang tersebut aku dapati di bagian blok A dipenuhi oleh mereka para pedagang Cina. Kemana-mana Cina. Dan kudengar mereka menggunakan komunikasi sesama mereka dalam dialek Cina. Luar biasa memang.

Keesokan harinya ibuku yang kebetulan mendapat tugas dinas di Jakarta terpaksa harus kembali pulang setelah dua hari lebih menemaniku. Walhasil pagi menjelang siang itu diriku kehilangan tempat berteduh. 😀 Dan sudah kuputuskan-walau bimbang untuk menjejakkan kaki ke Ciputat, tempat senior atau abang angkatku, Rengga Satria berkuliah. Disana aku akhirnya bisa melihat bagaimana Universitas Islam Negeri Jakarta atau UIN Jakarta, Syarif Hidayatullah (UIN SYAHID) itu dengan mata kepala hingga mata kaki. (maksudnya merasakan pijakan :)) Bisa masuk ke gedung pustaka pasca sarjananya saja sudah luar biasa. Hehe. Dan akhirnya bisa reunian dengan sahabat karibku, Hisna dan Diah. Hingga akhir malam menjelang dan malam itu aku menghabiskan waktu semalaman di sekretariat Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) di Jakarta.

Hari-hari selanjutnya kuhabiskan di daerah Tebet, tempat tante sahabat karibku Isa berada. Disana aku dan Isa bermalam dengan berbagai kegiatan di siang harinya. Dimulai dari silaturrahmi ke tempat tente si Isa, tante Neng. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju Kota Casablanca, untuk pergi menonton bioskop –Transformer terbaru. Oh ya, dihari sebelumnya kami sudah menghabiskan waktu dengan mengadakan reunian singkat bersama sahabat-sahabat ‘aliyahku di Pondok Indah Plaza atau lebih sering disingkat PIP :}.

Tibalah hari untukku dan Isa harus melanjutkan perjalanan ke Ranah Bundo Minangkabau. Satu setengah tahun lebih tidak berjumpa dengan kampung kelahiran. Bertatap muka dengan papa dan saudara-saudaraku adalah hal yang sangat berarti dalam hidup ini. Dan dalam tidurku, akhirnya kuterbangun dengan pembandangan bangunan teguh bertuliskan Bandara Internasional Minangkabau.

Adikku yang kedua sudah bertambah tinggi dan si bungsu yang dibawahnya, entah kenapa rasa-rasanya perawakannya sudah berubah drastis dari yang kukenal. Wajahnya agak berubah, tidak seimut yang kuingat. Hehe. Dan kusalami papaku, guru yang senantiasa mengarahkan dan menceramahiku. 🙂

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Aku bersyukur atas nikmat ini. Dan akhirnya cerita-cerita selanjutnya akan berlanjut di Aku dan Indonesia part 2, insya Allah.

Regard. 🙂

Iklan