Liburan di Batas Waktu

Wah udah lama gak bersihin nih lapak-sedih. Soal pikiran dan waktuku selalu habis terkuras oleh kuliah dan para diktat. 😦 Belum lagi ditambah dengan jadwal ujian kampus yang dimajukan dari waktu yang seharusnya. Very hard and very happy. 🙂

Alhamdulillah, masa ujian 6 Mei-10 Junipun usai. Saatnya menyusun planning-planning untuk liburan. Setidaknya liburan kali ini harus lebih bermakna dari liburan-liburan sebelumnya. Dan jangan sampai ada pertanyaan dibenak kalian, ”ada apa sih dengan liburan anak ini tahun lalu?’’. Hehe

Gambar

Empat bulan kedepan, sekitar seratus dua puluh harian. Didalamnya terdapat bulan Ramadan dan Dzulhijjah. Ditambah dengan nuansa yang pasti berbeda kali ini, jika Ramadan sebelumnya aku mesti berbuka diluar (di Mesir sebagian mahasiswa/i pergi berbuka ke masjid-mesjid yang menyediakan menu buka puasa, maklum malas masak ditambah “kankos” :D), dan kali ini aku insya Allah bakal bisa menikmati hidangan istimewa dari tangan terlembut didunia, milik ibuku semata.

Bicara liburan, memang sebaiknya tidak hanya dihabiskan untuk kegiatan yang sia-sia. Boleh saja, asal kadarnya dikurangi –Seperti kadarku yang sering berlebih, offer. Mulai dari menolong orang tua, mengupgrade diri dan lain-lain. Mau beraktifitas amal sosial, atau jika ada yang masih sibuk dengan perkuliahan, yah dinikmati saja. Hehe, peace qaqa. 🙂

Dan satu lagi, planning atau perencanaannya yang bakal disusun gak usah muluk-muluk, sedikit tapi pasti dan jangan kebanyakan, entar bakal keblablakan sendiri. 🙂 Yang perlu digaris bawahi adalah untuk memaksimalkan momen Ramadan kali ini. Momen romantis yang jarang-jarang bisa ditemukan dibulan-bulan lainnya; sahur bareng keluarga, nyari takjil bereng keluarga lagi dan buka puasapun barengan lagi. Duh, diditu romantis pisan (oeh, benar gak tu bahasa? :D)

Perbanyak juga bersahabat dengan Al-quran, jangan hanya dijadikan teman dikala “ingat” atau “terpaksa”. Seperti kisah pemuda dari Albania yang saya tonton. Disaat Idul Fitri dan Idul Adha keluarganya malah merayakan dengan miras apalagi Ramadannya? Al-quran hanya sebagai pajangan. Jika engkau ingin bercakap dengan Allah Ta’ala maka dirikanlah solat dan jika engkau ingin Allah Ta’ala bercakap dengan dirimu maka bacalah Al-quran. Allahumma alzimna ‘ala tho’atik.

Banyak-banyak mengingat Allah Ta’ala. Maka biasakanlah dari sekarang, sebelum Ramadan menyambut. Karena perbuatan yang dilakukan secara terus menerus akan menjadi kebiasaan, sehingga tidak akan terasa berat lagi ketika melakukannya dikemudian hari. Seluruh amalan tidan terbatas hanya pada dzikrullah (yang dimaksud disini adalah berzikir)saja. Ada solat sunat rawatib, tahiyatul masjid, witir, tahajjud dan dhuha. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita dalam pengamalannya.

Gambar

Ramadan habis, yang namanya keta’atan mesti harus selalu dijaga ya guys. 🙂

Next, datanglah masa-masa bahagia. Masa-masa pemenuhan gizi. Maklum gan sis saya anak kosan, makannya serba ada dan juga serba instan. 🙂 Ya pikirannya enggak selalu harus ke”makanan” gitu lah. Ditambah juga dengan olahraga. Mm, tampaknya liburan kali ini bakal lebih menyenangkan biidznillah.

Kalau saya pribadi sih rencananya insya Allah pingin namatin buku sebanyak-banyaknya. Soal kalau udah masuk masa kuliah, yang ada dipikiran mah Cuma “muqarrar” doang (bahasa kitanya, “diktat”). Itupun berbasa Arab. Kapan juga nih mata bisa baca bahasa nuraninya sendiri. (eih, kata. :D)

Ditambah juga, hiking ke puncak gunung. Bukan Bromo ya (bagi kalian yang kesihiran 5 cm :D), tapi gunung Marapi khas Sumatera Barat. Ini mesti terealisasikan. Soal, pingin ngelihat salah satu dari kekuasaan Allah Ta’ala di puncaknya. Pokoknya, itu bakal kerasa banget. Mesti. :D, ngikut?

Dari seluruh tulisan diatas, tetap yang nomor satu dan paling diutamakan adalah “berbakti kepada orang tua”. Soal aku pribadi mah udah mondok selama tujuh tahun gan, ditambah kuliah ditempat yang jauh. Dan itupun masih butuh waktu dua tahun lagi untuk menyelesaikannya, belum lagi jikalau aku diizinkan untuk melanjutkan –biidznillah­- program pasca sarjana dan program doktoralnya, bakal ngabisin setengah jatah umur. Lah kapan berbaktinya? Sedih, sungguh sangat-sangat menyedihkan. Aku hanya bisa berusaha maksimal disini, oleh karena itu insya Allah liburan kali ini benar-benar harus difokuskan untuk tetap terus berada disamping mereka, mama dan papaku tercinta.

Akhirnya, diri ini pun harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah dengan berjuta rasa, berjuta cerita dan berjuta kenangan. Pergi meraih asa dan mimpi. Semoga liburan kita kali ini bisa lebih bermakna semua ya dan diridhai Allah Ta’ala dalam setiap gerak dan langkahnya.

 

H-11 menuju Indonesia Jaya.:)

 

 

 

 

Iklan