Aku dan Jurnalistik

Setelah hampir setahun menjadi reporter dibuletin Informatika milik orsat ICMI Kairo, akhirnya sayapun mendapatkan sebuah kartu press. Akan tetapi saya lebih sering mendengarnya dengan sebutan kartu pers. Rasanya luar biasa. *ah biasa saja 😀

Kartu ini saya dapatkan setelah futsalan dari pinum atau pimpinan umum buletin Informatika, Fachry Emil Habib (ejaan namanya gak boleh salah :D). Setidaknya ini masih berlaku hingga akhir kepengurusan periode 2013/2014 yang insya Allah akan berakhir pada April ini.

Awal niat bergabung dengan buletin Informatika ini adalah untuk bisa terus tetap menulis (cerpen, novel dll), eh tidak tahunya saya malah harus jadi reporter. Meliputi berita kegiatan mahasiswa Indonesia di Mesir atau lebih dikenal dengan Masisir.

Cerita punya cerita akhirnya sayapun secara kontinu diminta untuk  meliput berita perdua minggunya. Terkadang jenuh juga sih, karena mesti menghubungi sana sini dan pergi kesana kemari. Mewancarai petinggi elit Mesir (wah seperti angkatan bersenjata saja) dan juga mahasiswa-mahasiwa yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Sayapun berusaha untuk menikmati aktifitas ini. Setelah menyelesaikan satu wawancara. sayapun harus kembali menuliskan hasil wawancara tersebut ke MS word sebelum akhirnya dijadikan sebuah berita. Dan kebetulan di Informatika ini kita menggunakan bentuk berita berjenis feature.

Banyak hal yang saya wawancarai. Mulai dari kegiatan Dewan Pengurus Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia (DP PPMI) dan juga aktifitas atau kejadian yang dialami oleh mahasiswa di Mesir. Saya pernah mewancarai seseorang  narasumber tentang seorang temannya yang meninggal disaat masih berstudi di Mesir. Itu adalah sebuah wawancara yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Dikarenakan meliputi kisah nyata seseorang dari kronologi awal penyakit menghampirinya hingga mautpun menjemputnya. Pada saat itu saya merasakan bahwa ajal itu begitu dekat dan tidak diketahui masanya.

Di buletin Informatika ini sayapun menemukan banyak teman baru dan juga senior yang sudah tidak perlu lagi ditanyakan kapasitasnya (dibidang jurnalistik). Walau awalnya terkesan kaku disaat sidang redaksi maupun dilapangan. Dan pada akhirnya perlahan-lahan suasanapun mulai hangat dan mencair. *seperti es cendol #eeh 😀

Pada awal masa bergabung dibuletin ini memang kita akan ditempatkan sebagai kru reporter terlebih dahulu dan pada tahun berikutnya posisi kita bakal beranjak naik. Naik menjadi pengurus dan selanjutnya naik menjadi redaktur. *wah banget deh kalau udah ngeliat posisi yang satu ini (redaktur.pen) –ini pastinya gara-gara ketemu pak Irwan Kelana dahulunya. 😀

Itu aja, wah banget ya. 🙂 hihi. Pokoknya ini dulu, semoga saya bisa tetap istiqomah  kedepannya dalam menjalankan amanah ini. *kebanyakan amanah bisa membuat anda terancam dan terbunuh. Waspadalah dan waspadalah 😀

Salam jurnalis.

Gambar

Iklan