Menggalaui para Pemimpin

Hari ini begitu melelahkan, tertidur di dalam kelaspun menjadi pilihan. Untungnya saja duktur hanya memberikan mata kuliah pembukaan. 🙂

Dan sekarang saya ingin bercerita tentang sosok pemimpin yang ada di negara kita, dan ambil “contoh” kecil saja yang sedang tren-trennya saat ini adalah gubernur DKI Joko Widodo. Entahlah saya hanya menyimak cerita saja dibalik layar teknologi digital dan juga update-an berita terbaru yang tiada henti memenuhi wall facebook. Dan itu semua menyangkut pemimpin yang telah kita singgung diatas tadi.

Pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Kalimat yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Dimintai pertanggung jawabannya di dunia dan di akhirat. Belum berapa lama ini telah terpilih Joko WIdodo atau yang lebih masyhur dengan Jokowi bersama Ahok sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur untuk DKI Jakarta. Banyak yang berharap pembaharuan dari pasangan ini. Pelbagai persoalan di ibukota Jakarta kini sudah resmi ditampuk di pundak mereka berdua.

Nah sekarang beredar isu, dan saya rasa sudah jadi berita populer bahwa Jokowi akan mencalonkan diri menjadi capres RI 2014-2019. Saya mencoba berfikir apa yang mereka fikirkan dan juga mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Pemimpin Itu adalah beban yang berat. Mereka para shohabah radhiyyalahu ‘anhum selalu berusa untuk menghindari yang hal-hal yang berkaitan dengan kekuasaan, dan dalam hal ini adalah permasalahan tapuk kepemimpinan seperti gubernur dll. Wallahua’lam.

Lah lantas bagaimana dengan bapak Jokowi? Saya lebih berfikir lagi bahwa beliau sebaiknya menjalankan amanah yang ada untuk lima tahun kedepan terlebih dahulu dan setelah itu “terserah” mau mencalonkan diri menjadi presiden ataupun tidak. Yang terpenting sekarang ini adalah perbaiki dahulu Jakarta dari banjir yang menghadang, kemacetan yang merajalela, ekonomi yang terjun bebas dan juga dari aspek lainnya yang telah dijanjikan. Karena jabatan itu adalah amanah yang akan serta-merta dipertanggung jawabkan dihadapan manusia di dunia dan juga didepan pengadilan yang tidak pernah menzalimi siapapun milik Allah Ta’ala.

Apapun itu alasannya, jangan sampai masyarakat yang menjadi korbannya. Oleh sebab ambisi kekuasaan semuanya menjadi terkatung-katung. Entah ada misi apa dibalik pencapresan Jokowi saya juga tidak tahu. Ada yang berpendapat tujuannya adalah jikalau Jokowi nyapres dan terpilih menjadi presiden maka Ahok otomatis menjadi gubernur. Dan akhirnya kembali ada satu provinsi lagi yang dipimpin oleh non-muslim di negara mayoritas penduduk muslim ini. Wallahua’lam.

Yah itulah panggung politik. Mendengar kata-kata politik sekarang saja sudah menjadi sebuah “stigma yang negatif” di mata masyarakat. Berebut kekuasaan sana-sini dan padahal jika mereka tahu kekuasaan tersebut bukanlah sesuatu barang yang bisa diperebutkan seenaknya saja serta bisa dipermainkan. Mereka para calon pemimpin seharusnya menyadari hal ini.

Pemilu 9 April 2014 sudah didepan mata, tidak sampai satu bulan lagi jari-jemari manusia di Indonesia akan dipenuhi oleh tinta-tinta ungu. Semoga presiden terpilih kali ini adalah yang terbaik dimata Allah Ta’ala dan dimata masyarakat Indonesia. Dan juga bisa membawa negara Indonesia kearah yang lebih baik dan lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Gambar

Iklan