Aku dan Sembiluan Api Hitam

Rasanya seperti terombang ambing bak terjatuh dari papan selancar di Pantai Kuta, Bali. Itu semua disebabkandiriku sudah tidak bisa lagi berada disamping kalian. Disini aku tegak terdiam membisu menghitungi satu persatu reruntuhan daun gugur dari sang induk, menebak satu persatu bentuk awan kington milik Son Goku yang berlari bergelombang meliuk hilir mudik menunggunya menari dijalur sirkuit balapan. Itulah diriku yang kini bingung dan linglung menatapi masa depan dengan tatapan penuh makna, masa depan sebagai seorang pemuda tangguh harapan bangsa yang tak kenal menyerah dan terus berjuang tanpa kenal lelah. Dan sesadar apapun itu semuanya hanyalah imajinasi belaka. Mana ada disaat sekarang ini orang yang boro-boro sibuk menghabiskan waktu emasnya untuk memikirkan masa depan umat, lebih enak dan nyaman duduk tersenyum disudut ruangan seperti ayam mengerami telur yang sabaran sampai datangnya gempa bumi, kemudian ia berlari seperti pesawat ulang-alik yang terbang meninggalkan telurnya dan kemudian dibiarkan mati membusuk. Aborsi tanpa sadar yang dilakukan oleh mereka para calon ibu yang jelas tidak bertanggung jawab.

Bermacam  model potret kehidupan seolah tidak pernah cukup untuk terus menerus menghiasi segitiga alam semesta dunia ini. Primer, sekunder dan tersier menjadi hal yang tidak tersusun rentet menurut abjad kedudukan mereka. Galau, apakah ini yang menghiasi mereka para pujangga muda saat ini, mem­ampangkan setiap gesekan yang terjadi dalam dunia kepada alam bawah alam ghaib, alam maya. Ini lucu menggelitik, tapi it’s the fact.

Sekarang kita mulai bertanya, dimana kita?  Manusia sudah tidak tahan untuk mencoba sebentar saja diam duduk berhenti barang sedetik memikirkan nasib umat dan bangsa saat ini. Hidupnya tengah dironda rasa asyik yang berkelanjutan dan ia tidak pernah berpaling dari rasa untuk memenuhi syahwat yang sedang menggelora dan bergejolak. Ia musti dipenuhi, karena menjadi kebutuhan yang melingkupi mereka para pemuda. Yang prioritas mulai tidak terbendung dan teratur lagi dalam benak pikiran penerus umat. Syahwat sudah menjadi ujung tombak; syahwat primer, syahwat sekunder dan syahwat tersier. Tanpa rasa bersalah agent of change itu kini tengah terjebak. What we have to do?

Terlepas dari apakah mereka Islam, Yahudi dan Nasrani. Semua sama, mulai dibutakan oleh perasaan yang buta arah. Hati mereka mati, telinga mereka tuli dan mata mereka buta, lantas apa yang akan mereka cari. Dengan hidung mereka akan membaui kebenaran. Sial, apakah seperti itu arti kebenaran.

 Kini kutanyakan kepada mereka para binatang: parkit apakah “cuit”mu bisa memberitahukan “suara” kebenaran? Dia menjawab, “ cuit”. Dan itulah arti kebenaran darinya. Lalu monyet, mulailah mengimajinasikan seperti contoh yang sudah tertera diatas kertas putih hitam tinta ini.

Kosong, mereka para pejuang bangsa itu sudah kosong. Apakah ini pertanda akhir dunia permainan, atau ini pertanda Dajjal-dajjal sudah mulai bermunculan. Tidak perlu contoh besar, berapa banyak setan dari golongan jin dan manusia yang sudah meringkuk, bergeliat dan berdesis diatas tanah. Menyesatkan mereka yang lemah hatinya. Itulah kehidupan, berjuang dan berjuang hingga badan ini terbelah dua, disatukan kembali, kemudian dibakar dan dilemparkan kedalam surga milik Dia Sang Maha Pencipta.

Aku sakit; mataku rabun jauh, mataku rabun dekat, mataku buta warna dan mataku amnesia, yah amnesia dari buta mata sesungguhnya. Tanya hati, dia tak tampak oleh mataku, tak sadar kini ia sudah mulai kian membusuk, telingaku tidak mendengarnya berjerit, mataku tidak melihatnya menderita dan mulutku sama sekali tidak pernah mencacinya.

Apa yang terjadi, ketika terbangun dari mimpi-mimpi palsu ini aku mulai berjalan menatapi satu persatu tiang-tiang dunia yang mulai rapuh dan rubuh. Antar planet saling bertubrukan, kawah-kawah mulai behamburan. Satu janin bayi yang belum berbentuk itupun jatuh dari tubannya. Aku menjerit, dimanakah ini? Secepat kilat makhluk yang tengah sesak nafas itu berlari dan menginjak kakiku. Mereka seakan tak sadar bila seorang putra mahkota yang dihormati sebab kebengisan di dunia tengah meringkuk kesakitan bergeliat diatas kotoran bangkai. Dia lanjut berlari, aku merangkak secepat yang aku bisa. Tiba-tiba, “Duaaar”, badanku meledak terpisah menjadi serpihan-serpihan mungil, tipis dan lembut seperti kapas putih berona merah yang tengah berdansa kencang hilir mudik seperti zebra yang kepanasan.

Aku menunggu dalam gelap, dan kemudian perlahan mulai tersadar. Apakah ini surga dunia? Terasa panas sekali, dan menyengat sampai kehulu hati. Satu persatu badanku merasakan apa yang dirasakan oleh hulu hati kecilku ini. Aku merasa tengah berenang dilahar merapi bercampur air mendidih yang sudah tidak berwujud. Semua orang diam menatap langit, tak sadar akupun ikut serta memandanginya. Tiba-tiba ada yang menyapa pundakku dengan keras tapi perlahan terasa seperti bola tenis yang mengenai badanku setelah terbang kencang melayang dismash  oleh Maria Sharapova, pemain tenis wanita asal Rusia . Ia datang dari sebelah kiriku. Aku sontak menjerit, sakit dan sungguh sangat sakit. Badanku berguling, bolak balik sana sini seolah ada api panas menggrogoti relung-relung tubuh ini satu persatu. Mataku mulai memutih dan badanku ikut menghitam seakan aku menjadi daging steak yang telah hangus dipanggang dengan batu bara kereta api.

 Terdiam, membisu dan tidak dapat berkata. Dimana aku? Pertanyaan ini tak pernah terjawab. Tiba-tiba mataku yang mulai bernanah ini terdiam menatap semacam garis lurus hitam yang berbatas, apa itu? Perlahan tapi pasti aku inginkan diriku berlari disana hingga menembus batas waktu. Aku bisa mencium baunya, telingaku mulai bergerak dan bereaksi panas, seolah-olah ada campuran asam pahit yang menetes disekujur lidahku dan membuat seluruh panca indra tanpa gunawan inipun tersentak dan melonjak “aktif”. Itu bunyi sungai, sungai yang berwarna putih sontak mataku menyahut. Berlari, perempuan-perempuan jelita itu tidak bersemangat menatap diriku, kenapa? Aku tidak mempedulikannya dan terus berlari. Dan maaf, anda belum beruntung, ini apa?  Seolah diriku tengah membuka satu bungkusan berhadiah dan secara cepat akupun menggosok kupon berhadiah tersebut dan, “Maaf, anda belum beruntung”. Entah kenapa kakiku terhempas disebabkan menginjak sesuatu yang licin dan itu bukan kulit pisang seperti yang ada difilem-filem. Dengan cekatan tanganku berusaha meraih tali setipis helaian rambut tersebut, apa daya, itu terlalu tipis, telalu dan terlalu.

Dengan kecepatan suara ultrasonik badanku mulai terjatuh dalam dan kian mengencang. Sayangnya aku tidak memiliki sabuk pengaman atau parasut dipundak. Ku menoleh ke atas dan lantai satupun sudah menjauh, terasa panas. Lantai dua terlewati, lantai tiga dan lantai empat, panas ini benar-benar membuatku sesak bernafas dan bergerak. Tangan-tangan indahku kini perlahan mulai hancur dan meleleh. Otakku yang selama ini kuidamkan dengan prestasinya sedikit demi sedikit hancur seperti tetesan jeruk yang belum selesai diperas. Lantai lima, setiap badan dan persendianku mulai lumat seolah menyublin menjadi gas. Dan tatkala hanya tinggal hati merah darahku yang meronta, tiba-tiba dia badanku kembali sehat walafiat seperti sediakala, seolah aku terlahir kembali sebagai pemuda harapan bangsa tanpa dosa. Memasuki lantai enam, disini aku mulai tidak bisa mereka dan melihat apapun lagi, sedikit, kabur dan tidak jelas. Tak lama kemudian kurasakan lega tiada tara karena bisa sampai dilantai dasar. Lantai tujuh ini panas, sungguh benar-benar sangat panas diatas panas dan penglihatan gelapnya yang menyakiti. Terasa aku tengah membenamkan diriku dalam wajan penuh minyak panas, dan diaduk dengan tumisan nanah dan darah sedemikian rupa, dilanjutkan dengan dibakari api biru besar gelap hingga matang tak berbentuk. Aku pasrah untuk mencoba mati sekali lagi, otakku sudah tidak mampu berembuk menyusun kata “TOBAT”. Aku sadar ini sudah berakhir, dan disinilah aku.

 Gambar

Iklan