Gelora di Tepi Alexandria

Sudah lama sekali jari jemari ini ingin menuliskan perihal akan “perjalanan”ku, tapi apa hendak dikata, pelbagai aktivitas padat menyesaki. Seolah sudah tidak ada lagi ruang untuk bernafas dibumi ini. Dan “treng..treng” akhirnya aku bisa kembali lagi.

Kisah perjalanan ini saya kumpulkan dari ketikan singkat saya di halaman fb, disunting dan disarikan disini, selamat membaca.

Minggu/ Senin, 10/11 November 2013

Gambar

Tak terasa angin pagipun menari riang kesana sini, menyerang sesiapa yang membutuhkan pertolongan pertama dalam hidup mereka. Kurebahkan diri sejenak sembari menatap indahnya daur ombak. ”Ayo foto aku disini” ujar Andiki yang tak sengaja memecah lamunanku. Kuambil kamera pocketku yang masih tertahan ditangan dan ”klik” tampaklah indahnya rona pantai Alexandria yang tak pernah segan untuk menggodaku.

GambarGambar

Siang ini kami disodorkan untuk pergi mengunjungi perpustakaan yang pernah menjadi perpustakaan terbesar di dunia, yakni perpustakaan Alexandria. Pustaka ini letaknya berdekatan dengan universitas Alexandria dan satu lagi, pustaka ini posisinya masih bertatap muka dengan tepi pantai Alexandria.

Pustaka yang memang sangat besar itu sudah menyita waktu kami lebih dari dua jam dan itu adalah waktu yang sangat sempit yang pernah diberikan oleh panitia kepada kami. Karena masih ada beribu-ribu buku, bermacam-macam tulisan kuno, berbagai lukisan-lukisan sejarah dan banyak hal-hal lainnya yang belum sempat terjamah oleh mataku ini.

Setelah keluar dari perpustakaan, aku kembali melenggak-lenggok kesana sini, lihat itu lihat ini. Dan ‘jprat-jpret’ akhirnya aku mendapatkan apa yang kuinginkan. Sembari sibuk lihat sana sini tak terasa langkah kecilku sudah sampai di atas bis yang akan menghantarkan kami ke rute perjalanan selanjutnya.

GambarGambar

Hari ini sudah memasuki hari ketiga ujarku dalam hati, Syeikh Muhammad Ibrahim bin Abbas Al-husaini Al-katani adalah yang pertama kali menjadi tuan rumah bagi kami, sambutan pengajiannya yang berisi (benar-benar sangat) membuatku terhibur, dan insya Allah malam ini akan menjadi malam yang terindah bagiku bersama beliau.
Tak ketinggalan sambutan hangat semalam dari cucu syeikh Abdul Qadir Jailani pendiri tareqat Qadiriyah, syeikh Halim Qadiri menjadi santapan rohani kedua bagiku. Allah, benar-benar kali ini aku tertikam sangat dalam oleh”nikmat-Mu” ya Ar-Rahman.

Ya Allah ya Ar-rahman ya Ar-rahiim, konsep cerita yang Engkau bagikan ini sungguh sangat begitu indah. Awalmula penyadaran diri ini sempat membuat hatiku terhentak dan terhenyak. Apakah majas perbandingan yang tepat antara aku budak kecil-Mu dengan mereka para pewaris nabi-Mu ya Rabb. Sungguh tak sanggup untuk kuungkapkan bagaimana indahnya akhlak pribadi mereka beserta ilmunya ya Allah. Berilah kepahaman akan ilmu-Mu kepada kami ya Rabbana dan faqqihkan kami fiiddinika ya Rabb.

-senyuman tipis dari pantai Alexandria.

Gambar

::to be continued::

Selasa, 12 November 2013

Tiga setengah jampun rasanya sudah mencukupi bagiku untuk beristirahat semalam. Sebelum subuh menjelang kamipun sudah dibangunkan untuk mulai bertandang ke belakang (wc).

Indah dan gerak sujud tahajjudpun ditegakkan sembari menunggu azan subuh berkumandang. Usai sholat subuh badan yang masih belum merasa bangun dari tidurnya inipun bersiap ingin protes. Slap, selimutpun kuhibaskan dan segera berlari perlahan menuju kamar mandi. Byuur, satu persatu tetesan embun panas mulai berlari mengguyur tubuhku. Selesainya mandi salah seorang seniorku berujar, ”yuk kita pergi jalan”. Aku terdiam, ”soal gak asyikkan jika pagi ini berlalu begitu saja”, tambahnya. Akhirnya kami putuskan untuk mulai menelusuri tepian panjang pantai Alexandria pagi itu. Sebut saja Yudi yang sudah mulai begitu bersemangat berjalan memimpin didepan. Kutersenyum sembari menjepret kamera sana sini.

Gambar
Hari ini kami (rombongan PPMI Mesir) akan memulai berziarah ke maqam para auliya’ di Mansiya. Dimulai dari maqam Saydi Al-mursi Abil Abbas, salah seorang tokoh tareqat Syadziliyah beserta maqam para muridnya; Saydi Al-imam Albushoiri dan Saydi Yaquut Al-arsy yang konon katanya dahulu bertugas mengumandangkan azan setelah azan di Al- arsy (di langit.pen) selesai berkumandang. Subhanallah.

GambarGambar

Setelah puas, kamipun melanjutkan perjalanan menuju maqam nabi Daniyal di Mahattah. Allah, ini pertama kali dalam hidup bisa langsung berziarah ke maqam para nabi. Semoga esok kesampaian juga untuk berziarah ke maqam nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam tuturku dalam hati. Amiin ya Rabb.

Gambar

 

Akhir cerita, sampailah aku di Mumtaza. Sebuah tempat wisata di tepi pantai Alexandria. Indahnya dan sangat disayangkan saja rombongan kami terlambat datang. Hanya selang beberapa waktu saja aku dapat berdiri memandangi indahnya lekukan serta deburan ombak Alexandria di jembatan merah. Ya jembatan merah, dikarenakan memang sebutan jembatan tersebut sesuai dengan warnanya. Dan aku melanjutkan perjalanan ke sebuah benteng tak jauh dari tempat kuberdiri.

 

GambarGambar

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan waktu Alexandria, waktunya aku bertolak ke penginapan di Mesjid ‘Amru bin Ash, Shofroh-Alexandria. Disana kami dijamu kembali oleh syeikh ‘Ala’ dan dilanjutkan bertatap muka dengan guru tareqat beliau syeikh Abdussalam hingga pertengahan malam.

Gambar

 

 

Rabu, 13 November 2013

Inilah hari perpisahan, dan inilah hari wada’an. Akhirnya kami harus rela untuk meninggalkan Alexandria. Sebelum beranjak pergi kami mengadakan perpisahan dengan syeikh ‘Ala’. Banyak jutaan limpahan air mata yang jatuh, termasuk aku didalamnya. Rangkaian kata yang belum terucap akhirnya bisa kulepaskan sembari memeluk erat syeikh ‘Ala’ di Ruwaq Al-Azhar Alexandria ini. Memohon do’a dari beliau semoga aku bisa termasuk kedalam golongan mereka para ‘ulama.

 

Gambar

Di tepi jalan kami menunggu datangnya bus untuk kembali ke kota Kairo, sembari melirik kembali hamparan pasir dan debur ombak Alexandria, aku berbisik, “Indahnya dan memang banyak hal yang tak akan terlupakan bersamamu Alexa manisku.”

Iklan