Merelakan “Inti” Aktivitas

Bismillahirrahmanirrahiim…

Ketika kita melaksanakan suatu aktifitas, kita terkadang tidak sadar melakukannya tanpa tahu apa yang sedang “berbisik” di dalam hati. Apakah saya sudah rela jika semua ini diperbuat hanya dan untuk Allah Ta’ala. Dan sudahkah tiada sifat riya didalamnya, tanpa pamrih dan tulus ikhlas. Untuk kata terakhir saya rasa sangat mudah bagi kita mencoba untuk mendefiniskan apa itu arti ikhlas dalam kehidupan. Dan bagi saya pribadi mendefinisikannya adalah dengan melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan balasan. Ups, tidak hanya sampai disana ditambah juga hanya karena dan hanya saja untuk mengharapkan ridha Allah Ta’ala tanpa ada embel-embel lagi dibelakangnya.

Allah Ta’ala berfirman : (Dan tidaklah mereka semua diperintahkan kecuali supaya mereka menyembah Allah  secara ikhlas bagi agamanya yang lurus dan mereka semua menegakkan sholat dan mereka semua mendatangkan zakat dan demikianlah agama yang lurus) [QS. Albayyinah : 5]

Dan juga : (Katakanlah, sungguh jika kamu semua menyembunyikan apa yang ada didalam dada kamu atau menampakkannya maka Allah akan mengetahuinya) [QS Ali Imran : 29}

Dan dari Amirul Mukminin Abi Hafsin Umar bin Al-khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyyah bin Abdillah bin Qurti bin Razaah bin ‘Adii bin Ka’ab bin Luayyi bin Ghalib Alqursyii Al-‘adawy radhiyallahu ‘anhu, telah berkata : Aku telah mendengar Rasulullah sholallahu’alaihi wassalam, dia bersabda : ((Hanya saja seluruh amal-amal itu diawali dengan niat, hanya saja untuk setiap perkara sesuai dengan apa yang mereka niatkan, maka siapa yang ada hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, dan siapa yang ada hijrahnya untuk dunia yang dia akan mencapainya, atau perempuan yang dia akan menikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang dia telah hijrah kepadanya)) HR Bukhari dan Muslim

Dan dari Abi Hurairah ‘Abdul Rahman bin Shokhrin radhiyallahu ‘anhu,  telah berkata : Telah bersabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam : ((Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jumlah-jumlah kamu, dan tidak juga kepada bentuk-bentuk kamu, akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kamu dan amal-amal kamu)) HR Muslim

Saya jadi teringat dengan sebuah dialog ketika saya dalam sebuah perjalanan. “Bagaimana engkau dalam menuntut ilmu?”, ujar pemuda asal Nigeria itu kepada saya. “Apakah hanya untuk mencari syahadah (ijasah) saja?”, lanjutnya. Saya yang tengah duduk di bangku yang menghadap kearah jendela buspun hanya bisa menjawab dengan nada diam membisu. Sembari memperbaiki posisi duduk, Saya berusaha untuk tetap fokus memperhatikan ucapannya.. Dengan bola mata yang menunjukkan kesan serius ia melanjutkan, “Seharusnya kamu sebagai penuntut ilmu itu musti ikhlas dalam belajar, ingat yang kamu pelajari adalah ilmu agama. Kamu itu adalah pewaris para nabi dan kamu kini tengah berada di posisi mereka, maka berhati-hatilah”, Sampai disini saya mulai tertegun dengan apa yang ia coba jelaskan. Ikhlas, kata-kata yang terus menerus membututi dan tanpa sadar diri ini juga sering tak acuh kepadanya.

Tampak sudah bagaimana urgensi ikhlas dalam kehidupan, Bahwa bila kita melaksanakan suatu aktivitas tanpa menyertakan Dzat Khaliq didalamnya sama saja dengan nonsense. Karena kita hidup hanya untuk Allah Ta’ala. Sia-sialah umur dan usaha jikalau kita melakukan sesuatu hanya untuk menurutkan ego dan hawa nafsu semata. Na’udzubillah min dzalik. Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita bersama, sehingga kita dapat menjalankan hidup di dunia ini dengan hati tenang lagi menenangkan

.Gambar

Iklan