Mesir Sepuluh Oktober

Pandanganku masih tidak lepas dari pemandangan hijaunya hadiqatul Azhar, secara tidak sadar perlahan  mulai tersibak segala kekakuan yang kurasakan belakangan ini, entah darimana asalnya 10 Oktober mulai menjadi tanggal yang mulai menyejarah bagiku. Disitu, dengan 10 Oktober aku mulai melangkah dan mulai berusaha perlahan dalam mengubah diri. Mulai mengingat satu persatu alasan dan kenyataan kenapa aku harus berdiri disini, di negara para Anbiya’.

Angin musim panas yang masih terngiang  dibenakku perlahan mulai mendingin, pertanda musim panas telah bersiap-siap untuk meninggalkanku. Burung-burung masih tetap ceria terbang kesana kemari, berusaha menghalauku dari kegalauan ini.

Sebut dia Isa, orang yang paling sering mengingatkanku dengan kapal terbang. Bagaimana tidak ketika melintas sebuah pesawat di atas kami, sontak dia menunjuknya dan kamipun mulai berkhayal kapan bisa kembali pulang.

Azan-azanpun saling berebutan dilangit-langit sore, menjadi khas tersendiri dengan namanya negeri seribu menara. Aku bersyukur bisa sampai disini, walau bisa dikata ini semua fadhlu minallah ta’ala (keutamaan dari Allah Ta’ala). Takjub memang, sesuatu yang kuimpikan selama empat tahun dahulunya kini bisa terpampang jelas di kedua bola mataku.

Ayah dan ibu, kalian berdua apa kabar? Aku disini selalu mendo’akan kalian. Masih teringat dengan baktiku yang belum sempurna dibandingkan budi kalian berdua yang tetap terus menggunung tinggi. Berdosalah aku bila tidak bisa menjadi lebih baik; baik dari segi ilmu, amal serta pikiran. Aku takut dengan kemarahan langit jika ridha dari Allah Ta’ala dan ridha kalian berdua tidak bisa kudapati.

Botol kaleng Pepsi yang warnanya tetap masih biru muda terang ini tetap belum berubah, apakah aku juga begitu? Satu tahun bukanlah waktu yang singkat jika kembali kuingat awal mula kaki ini mulai melangkah menelusuri jejak-jejak langkah para ulama. Semua kesenangan, hiburan, kegalauan, kesedihan bahkan tangis tetap setia menghiasai hariku. Dan jikalau aku bersedih, otakku sedikit demi sedikit mulai menggambarkan manisnya wajah kalian berdua, ayah dan ibuku.

Dunia baru, kampus baru dan pergaulan barupun mulai perlahan menyapaku. Kenapa tidak, bahasa dan dialektika yang berbeda serta  teman-teman yang datang dari seluruh penjuru dunia ini mulai mengupas pola pikirku tanpa henti. Ilmu-ilmu yang berlimpah layaknya lautan samudra inipun mulai perlahan membanjiriku. Ulama-ulama yang berwawasan luas serta beraklak karimah ini yang terus menempaku. Ayah dan ibu, aku berharap kaliapun bisa ikut serta menyaksikan “semesta keilmuan” di bumi kinanah ini.

Dan jika kalian berdua mulai bertanya akan kesabaranku, biarlah setiap jejak tapak kakiku yang  menjawab. Mereka dan malaikat-malaikatpun menjadi saksi bagaimana kesabaranku mulai dipupuk  hingga beridiri tegak sekeras batu di gunung-gunung. Yang kutakutkan adalah akan kesabaran kalian berdua  yang mudah retak terhadapku. Kuberdo’a semoga Allah ta’ala senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayahnya kepada kalian berdua.

Sembilan Oktober, aku dan teman-temanku mulai menyatakan azam untuk meninggalkan ranah bundo kanduang kami nan tercinta. Isak tangis perpisahanpun pecah disana-sini, dan kuharap tangis kalian kini telah berganti menjadi senyuman. Bersama-sama kamipun menaiki kapal tempur untuk pergi berjihad ke ranah yang lebih tinggi, semata-mata untuk mencapai kesyahidan dalam ber-tholabul ‘ilmi (menuntut ilmu).

Teman-temanku tercinta kalian apa kabar? Walau tak sempat bertatap muka terlalu lama di menit terakhir, kenangan bersama kalian telah cukup mewakilinya. Kuharap kalian disana juga baik-baik saja.

Ketika kalian bertanya apakah aku disini merasakan kesepian? Tentu bakal kujawab iya, karena kalian sudah tidak lagi disisiku. Tapi tenang, aku masih sanggup untuk kembali menemukan permata-permata baru yang mampu menghiasi hariku disini. Tawa, canda dan keluh kesah tetap ada, hanya saja kali ini terasa berbeda tanpa kehadiran kalian.

Kuharap aku bisa menjadi seperti langit-langit Mesir yang tidak bisa bersedih. Karena dengannya aku bisa tetap terus menjalani hari ini dengan tetap tersenyum; di dunia dan akhirat.

Kairo, 10 Oktober 2013. Memperingati satu tahun di Bumi Mesir.

Gambar

Iklan