Refleksi Akhir Tahun; Aku dan Mesir (Tahun Satu)

“Selamat bang, abang najah”, begitulah tulisan yang tertulis di whatsapp hapeku. Syukurku kepada Ilahi Rabbi. Langsung saja ku pencet nomor dilayar hapeku, aku mencari nama Hamda, salah seorang mahasiswa jurusan Syari’ah tingkat satu yang kini tengah berada di fakultas Ushuluddin. Dia orang pertama yang mengucapkan selamat atas keberhasilanku untuk melanjutkan kuliah ke tingkat dua di fakultas Ushuluddin tersebut. “Halo, Hamda, apa natijah abang?”, ujarku. Walaupun kami seangkatan akan tetapi umur kami berpautan satu tahun. Tepatnya dikarenakan diriku mondok  di tingkat ‘Aliyahnya selama 4 tahun sedangkan Hamda di MAPK Koto Baru hanya 3 tahun. “abang manqulain” ucapnya. Langsung saja lutut ku bersimpuh kearah kiblat pertanda syukur akan kenajahanku.

Raker sebuah organisasi tengah berlangsung, dan aku menjadi bagian didalamnya sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk pergi kesana. Hasil dari pembelajaran selama setahun, yang lebih kurang 2 setengah bulan membuat ku menunggu akhirnya keluar. Lalu ku pencet lagi nomor lain, Isa. Dia adalah sahabatku satu pondok dahulunya. Sayang dia belum mengetahui hasilnya. Langsung saja kutanyakan nomor raqam julusnya (nomor urut kuliah atau induk) dan segera sajaku hubungi Hamda kembali. Walhasil natijah Isapun sama denganku. Alhamdulillah.

Manqulain, di universitasku berarti “gagal” di dua mata perkuliahan. Yang menyebabkan hasil dari IPnya ditahan hingga tahun depan dan dia masih dapat melanjutkan ketingkat selanjutnya. Dan pada semester berikutnya atau berikutnya lagi ia mesti mengulangi kembali ujian mata perkuliahan yang gagal tersebut yang pada akhirnya di universitaku tersebut kita musti lulus di semua mata perkuliahan. Dan aku tidak menyesalinya, karena hasil sebanding dengan usaha. Menengok kembali kebalakang, dan kudapati diriku tengah terus tersenyum manis tanpa ada terlihat tetesan keringat. Ah, kamuuu……

Di univesitasku tampilan nilai IPnya tidak sama dengan sebagian besar di universitas-universitas lainnya. Yang hasil akhir IPnya dari satu sampai empat. Ditempatku hasil nilai akhir diurutkan dari yang terbaik yakni Mumtaz (9-10), Jayyid Jiddan ( 8-8,99), Jayyid (6-7,99), Maqbul (5-5,99), Manqul 1 (gagal disatu mata perkuliahan), Manqul 2/ Manqulain (gagal didua mata perkuliahan) dan yang terakhir adalah Rasib (gagal atau tinggal kelas atau harus mengulangi kembali ditingkat yang sama disebabkan karena gagal ditiga mata perkuliahan atau lebih).

Seseorang lelaki  mulai memeloti kertas-kertas yang ditempelkan didinding, ia peloti satu persatu dan itu dia, Assa Dullah Rouf. Seorang mahasiswa berego tinggi dan mau seenaknya sendiri. Ia dapati dirinya naik dengan nilai pas-pasan. Alhamdulillah ia berujar dalam hati. Dan untuk kedepannya ia bertekad untuk tidak lagi menyia-nyiakan waktunya sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala atas nikmat kenajahan (berhasil) lolos ketingkat dua.

Ujian yang harus dilalui dalam kurun waktu hampir sebulan itu masih membenak dikepalanya. Masih teringat akan isak tangisnya dilokal ujian yang tidak diketahui oleh mahasiswa bahkan pengawas ujian sekalipun disaat tengah buntu dalam menjawab beberap soal ujian. Itulah airmata sesalnya, airmata dari hasil melalaikan waktu selama ini. Íghfirlii Ya Rabb!!

Tak terasa waktu untuk masuk kuliah sudah berada didepan mata. Tiga hari lagi aku akan mulai berjibaku dengan muqorror-muqorror (kalian biasa memanggilnya dengan nama “diktat”) dan sibuk di sana-sini. Tidak ada istilah “poligami’ lagi dalam menuntut ‘ilmu, ia sudah ku khitbah. Tidak ingin dicampurkan dengan “agenda-agenda” atau “kegiatan-kegiatan” lainnya.

Kampung halaman yang sudah hampir setahun ku tinggalkan tersebut kembali tergiang dibenakku. Teringat akan ayah, ibu dan beserta keluarga lainnya yang tengah berharap akan keberhasilanku dan limpahan ilmu-Nya Ta’ala. Teringat akan tugas da’wah yang menanti, bukan sebagai “profesi” akan tetapi sebagai “kewajiban” yang dimiliki oleh mereka para hamba Allah Ta’ala.

Mulai menggarisi satu persatu sudut-sudut buku, planning-planning mulai diatur dan begitu  juga dengan persiapan lainnya, mulai dari niat sampai kepada kesehatan mulai harus dijaga. Persenjataan perangpun mulai disediakan untuk berjihad di jalan Allah Ta’ala.

Dan dari Anas radhiyallahu’anhu telah berkata : telah berkata Rasulullah sholallahu’alaihiwassalam : ((Siapa yang telah keluar dalam menuntut ‘ilmu maka dia fiisabilillah (dalam jalan Allah) sampai dia sedang pulang)). HR. Turmidzi, dan dia telah berkata ((hadist Hasan))

Ya Rabbana, Engkau yang Maha Memiliki. Berilah kami setitik dari ‘ilmu-Mu yang menyamudra, dan berkahilah kami dalam ‘ilmu kami.

Allahumma zidna ‘ilmaan warzuqni fahman.

Gambar

Iklan