Setahun tak Bertemu Mentari

Tahukah kalian bagaimana perasaanku kini? Perasaan dimana saat jiwa-jiwa ini mulai menerawang secara cepat kemasa lalu, disaat ia menemukan dan mulai  menarik satu persatu kepingan puzzle tentang salah satu kisah yang  perlahan-lahan  mulai menghilang. Ku coba untuk merakit puzzle tersebut  dari segala sisi akan tetapi tak bisa, ku coba untuk merakitnya  dari pertengahan tetap tak bisa dan akhirnya kusarankan kepadaku diriku sendiri untuk sedikit mengamati lebih lama lagi sembari menelusuri  perlahan-lahan akan kisah tersebut satu persatu. Kalian mulai bertanya bukan, tentang apakah itu?  itu semua tentang kita sahabat-sahabatku.

Ku dapati diriku yang dahulunya tengah berada ditempat yang sama sekali belum sanggup aku untuk  menerima keadaanya akan tetapi Tuhan menakdirinya, iya dan tempat itu adalah bersama kalian. Seiring berjalannya waktu tanpa kusadari diriku mulai terbawa arus gelombang, ya arus gelombang yang perlahan-lahan menyapu hatiku hingga selembut salju, dan untuk melupakan kalianpun langit-langit hitampun tak meredhainya, gombal memang.

Masa-masa tersebut  kini sudah jelas hilang dari hadapanku, dari hadapan kalian dan juga dari para “penghuni” madrasah kita. Kalianpun secara tidak sabaran mulai melangkah, satu persatu tapak kalian mulai melaju dan menghilang hingga tak meninggalkan jejak. Mencoba untuk terus berlari layaknya anak panah yang terlepas dari busurnya dan tidak pernah kembali.

Aku mulai merindu, dahulu perasaan itu belum begitu berasa hingga akhirnya aku mulai tersadar ternyata mimpi-mimpiku selama ini tidak akan pernah muncul dengan sendirinya  dan akan perlahan-lahan mulai menghilang seiring dengan hilangnya tawa kalian. Sedikit berbasa-basi, itupun cukup bagiku untuk  mengobati sakit-sakit kerinduan hati ini kepada kalian. Aku tahu kalian sudah begitu sibuk bergumul dengan masa depan hingga terkadang  kalian lupa dengan apa itu arti ‘‘kehilangan’’. Sepertiga dari umur yang telah Allah Ta’ala anugerahkan kepadaku telah ku habiskan untuk terus bersama kalian dalam merajut gulungan ukhuwah yang terkadang dalam perjalanannya perlahan mulai mengusut, berat memang.

Dan sekarang sedikit demi sedikit memori itu kembali terbuka, dan diapun mulai menangkapi satu persatu arsip-arsip yang tengah letih berlari kian kemari. Yah itu dia, itu dia ‘’madrasah’’ku, tempat ku menggali ilmu dan memperkokoh sendi iman. Itu dia ‘’madrasah’’ku tempat berbagi ilmu dan pengalaman. Itu dia ‘’madrasah’’ku tempat awal aku mulai meraih satu persatu cita-citaku untuk kampung halaman.

Semoga mentari esok sembilan tahun lagi masih akan tetap bersinar, dan aku juga berharap agar senyum kalian yang cerah itu tetap merona seperti awal pertama kali kita bertemu.

Kejarlah cita-cita dan tinggalkan apa yang menghalangi kalian daripadanya, “Diantara kebaikan Islam seseorang adalah ditinggalkannya apa-apa yang tidak menghendaki kepadanya.”

 

 

Kairo, 24 Agustus 2013.

Memperingati masa setahun meninggalkan Madrasah Diniyah Limo Jurai

Gambar.Gambar

Iklan