Lebaran Mesir Ala “Nile River”

“Pukul berapa sih?”, aku tersentak dari tidurku, ku lihat hari masih menunjukkan pukul dua kurang dini hari. Akupun beranjak dari tempat tidurku menuju dapur, yah air, air mineral aku mencari sesuatu untuk diminum,dan akhirnya kutemukan seteko sirup bekas buka puasa bersama kemarin. Mulai kunikmati seteguk demi seteguk air sirup yang merembes kesekitar tenggorokan. Setelah puas akupun kembali ke kamar, aku mulai menyalakan laptop untuk mengecek kembali tentang tempat shalat id yang akan diadakan oleh KBRI Mesir hari ini. Dan pada lebaran kali ini bertempat di kantor KBRI di Garden City, berdekatan dengan Sungai Nil. Dan aku pikir sayang untuk melanjutkan tidur kali ini, karena dijadwal keberangkatan kesana ditulis pukul enam pagi waktu Kairo, akhirnya kuputuskan untuk menegakkan shalat Tahajjud walau sedikit, lalu mandi, shalat shubuh berjama’ah dan beres-beres untuk pergi.

“Azhar yuk pergi!.”, kataku kepada salah seorang temanku yang masih belum pergi. Aku melihat keseliling, tidak ada lagi yang tersisa, para pasukan penghuni istanaku telah terlbih dahulu pergi. Sesaat turun dari apartemen ku dilantai lima, aku mulai memeriksa tas kecilku dan “wah” telepon genggamku ketinggalan. Dan aku rasa aku tidak akan membutuhkannya, lalu kami melanjutkan perjalanan. Sesampainya ditempat yang dijanjikan, kumulai melihat-lihat  kesekitar dan aku tidak mendapati mahasiswa-mahasiswa Indonesia lainnya. Aku coba berlarii kedepan masjid Al-Azhar, tidak kudapati  dan kedepan gerbang universitas Al-Azhar di Darrasah, tetap hasilnya nihil, yang paling sumpeknya adalah handphoneku tinggal. Kulihat hari sudah menunjukkan pukul enam kurang sepuluh pagi, padahal dalam perjanjian kami sudah harus berkumpul tepat jam enam pagi di samping masjid Al-Azhar. Akhirnya kuputuskan untuk kembali pulang, wah jarak yang cukup jauh untuk ditempuh. Belum sampai setengah perjalanan, aku bertemu dengan teman-teman dari Padang yang akan menuju tempat berkumpul menunggu bus jemputan dari KBRI, Alhamdulillah ya Rabb. Lalu kami mulai berjalan, dan sampailah, ternyata disana sudah banyak mahasiswa Indonesia yang menunggu, dan akupun tersenyum puas.

Masih terpikir oleh ku, tentang sebuah statement “orang Indonesia terkenal dengan jam karetnya.”, yah akupun tidak dapat membatahnya karena memang hal ini yang kurasakan semenjak dari  Indonesia sampai ke Mesir sekarang ini, memang sangat susah untuk merubah kebiasaan turun temurun ini. Bus yang dijanjikan pukul enam pagi tersebut, baru sampai dilokasi tempat kami menunggu pukul setengah delapan lewat, coba pikir satu setengah jam bukan waktu yang sebentar. Jika tahu begini aku bakal terlebih dahulu mengikuti shalad Idul Fitri di masjid Al-azhar yang berlangsung pukul enam kurang sepuluh waktu kairo pagi tadi. Oh ya, di Kairo sekarang tengah musim panas, jadi waktu  sholat shubuh dan sholat idnya jadi lebih cepat daripada di Indonesia yang biasanya pukul setengah delapan pagi.

Dan buspun mulai berjalan, aku melihat ada sebagian mahasiswa yang masih tertinggal, mereka nantinya bakal dijemput lagi oleh bus yang sama. Sesampainya di KBRI akupun terkejut mendapati  mereka tengah sedang melaksanakan sholat id, dan akupun menjadi makmum yang masbuk, dan ini pertama kalinya dalam hidupku. Setelah mendengarkan ceramah, aku dan teman-temanpun mulai bergerak menuju tempat pembagian nasi bungkus sesuai dengan kupon yang kami terima sesaat akan memasuki gerbang KBRI Kairo tadi. Dan tebak apa lauknya, ayam, Alhamdulillah. Setelah makan akupun mulai berjalan kesana kemari, bertemu kakak-kakak, teman-teman, dan pegawai-pegawai KBRI di Mesir. Akupun mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum” dan mereka menjawab ,“taqabbalallahu yaa kariim”. Setelah puas berfoto-foto dan bersalam-salaman, salah seorang seniorku di KMM (Kesepakatan Mahasiswa Minangkabau, adalah organisasi himpunan mahasiswa asal Sumatera Barat di Mesir), Irsyad mengajaku untuk berjalan-jalan ke sungai Nil. Dan tahu apa responku, boleh, walau ini diluar perencanaanku. Lokasi sungai Nil tidaklah jauh dari lokasi tempat kami berada sekarang ini, hanya tinggal berjalan beberapa meter dan sampailah. Setelah meiihat-melihat, salah seorang seniorku yang lainnya juga mengajak kami untuk menaiki perahu dengan bayaran delapan puluh pound Mesir atau sekitar seratus dua puluh ribu rupiah jika diuangkan ke Rupiah. Kamipun menyetujuinya dan dimulailah perjalanan kami.

Sungai nil adalah sungai terpanjang di dunia yang panjangnya sampai menembus tujuh Negara. Dan kita pasti mengetahui bahwa disungai Nil  inilah salah seorang nabi umat Islam, yakni nabi Musa dihanyutkan dan dipungut oelh istri Fir’aun. Adalah sebuah kisah yang luar biasa atas kekuasaan Allah Ta’ala. Di atas perahu tersebut, aku mulai menikmati sejuknya udara yang mengalir lembut disekitarku dan ditambahi pemandangan yang membuat takjub bagi siapa saja yang melihatnya. Satu jam lamanya kami diatas perahu, kami dibawa dari ujung ke ujung. Perahu yang kami naiki tidak menggunakan mesin, hanya menggunakan layar terkembang saja, layaknya seperti filem-filem kapal bajak laut seperti Pirates of Caribbean, hehe. Ini kali keduanya aku menyelami pemandangan disungai Nil tersebut, indahnya. Disekeliling sungai Nil tersebut ditutupi oleh gedung-gedung tinggi lagi mewah, pemandangan ini membawa kesan lux tersendiri. Kami menyewa dua kapal, dikarenakan rombongan kami yang mencapai tiga puluh orang. Setelah puas menghayati, kamipun bercengkrama, melucu dan tertawa bersama. Tidak ketinggalan dokumentasi, ini adalah hal terpenting ketika kita dalam perjalanan. Tidak terasa waktu kami yang hanya satu jampun mulai habis, dan perahu kamipun merapat.

Pawa awalya kami berencana untuk pulang dengan menggunakan metro atau kereta bawah tanah. Ternyaata kami masih mendapati dua bus yang salah satunya masih bisa menumpangi kami, Alhamdulillah. Perjalanan yang seharusnya jauh menjadi lebih dekat, berkahnya yaumul ‘idh. Setelah sesampainya di depan kantor Massyikhah Al-Azhar, kamipun turun dari bus. Kantor Masyikkhar Al-Azhar ­adalah tempat berkumpulnya syeikh-syeikh Al-Azhar, ulama-ulama yang namanya sudah tidak asing didunia ini. Di belakang kantor Masyikkah  tersebut terdapat perpustakaan Al-Azhar yang menyimpan berpuluh-puluh ribu buku karangan ulama dunia, bahkan katanya disini masih terdapat tulisan-tulisan asli pengarang dari kitab-kitab tersebut. Disamping kantor Masyikkah tersebut terdapat kantor Darul Ifta’, kantor tempat mufti Mesir bekerja, kira-kira sama dengan MUI di Indonesia, Cuma ini lebih tinggi dari segi jabatan dan kinerjanya.

Belum sampai aku menjejalkan kaki ke rumah, aku sudah ditarik untuk masuk ke salah satu rumah seniorku yang flat atau apartemennya  diberi nama Darul Fatih yang artinya kampung kemenangan, wah jadinya harus diladeni, sesampainya disana aku dihidangi dengan kue lebaran ditambah segelas sirup mangga, wah uenak tenan. Setelah puas, akupun sholat Dzuhur berjama’ah. Setelah melihat keseliling, kudapati kebanyakan dari penghuninya sudah mulai beristirahat, dan akupun memutuskan untuk undur diri, karena aku juga merasakan letih yang sama dengan mereka para penghuni rumah Darul Fatih tersebut. Sesampainya di apartemenku, akupun terlelap.

Setelah melaksanakan sholat maghrib, akupun berangkat menuju rumah salah seorang senior dan teman-temanku, mereka menamainya Darul Huffadz yang berarti kampung para pengahafal Al-qur’an. Ini uniknya para mahasiswa asal Sumatera Barat, mereka menamai flat atau apartemen tempat mereka tinggal. Akhirnya acarapun dibuka, sepatah kata dari ketua rumah dan diakhiri aku sebagai pembaca do’a. Dan sampailah pada acara inti, bakso. Inilah yang dinamakan acara inti, acara makan-makan, siapa yang tidak mau coba jika diberikan semangkok bakso gratis ditengah padang gersang di negeri Mesir ini, hehe. Makanpun usai, kamipun mendapatkan wejangan dari para senior, salah satunya agar bersungguh-sungguh selama di Al-Azhar, Mesir ini apalagi flat atau apartemen tempat kami tinggal yang berdekatan dengan kampus Al-Azhar sendiri serta tempat talaqqi atau pengajian-pengajian di masjid Al-Azhar musti lebih lagi hasilnya daripada teman-teman yang flat atau apartemennya berada jauh dari lokasi kami tersebut. Dan tidak lupa pula, senior kami juga menyampaikan untuk memperbaiki niat kami serta mulai merencanakan serta memetakan bagaimana masa depan yang akan kami jalani. Akhirnya acarapun ditutup, kamipun pulang ke flat atau apartemen kami masing-masing.

Bantal dan selimutku sudah tidak sabar lagi untuk bergumul denganku, badan yang cuma diberi kesempatan tidur kurang lebih dua jam semalam ini mulai meminta lebih. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri cerita lebaranku kali ini.

Taqabbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum wa ilallahi aqrab.

Salam “’Idh Mubarak” 1434 H dari negeri seribu menara, Mesir.

Gambar

Iklan