Aku dan Sayap-sayap Al-qur’an

inta uddam, ra’atain”  ujar salah seorang bapak itu kepadaku. Majulah kedepan, dua raka’at, dia memintaku untuk menjadi imam sholat tahajjud malam itu. Aku berusaha menolak sebaik mungkin. Dan sang bapak itupun mulai memelas, akhirnya aku mengalah. Aku mulai dengan takbir, ketika membaca surah ba’da al-Fatihah aku mulai gugup, hafalanku terputus. Untung ada ma’mum dibelakangku yang membisikkan. Tidak beda dengan raka’at ke dua, aku benar-benar nervous. Belum memungkinkan bagiku untuk maju menjadi seorang imam dengan kapabilitasku sebagai pendatang baru di bumi kinnanah ini.

Akhirnya salampun kulantunkan. Akupun menoleh kebelakang sembari berkata “tafadhhal” kepada orang Mesi r dibelangku. Kulihat umurnya sekitar tiga lima lebih dan ia memang biasa terlihat mengimami sholat tahjjud ini. Setelah selesai dua-dua rakaat tahajjud, beliau meminta seorang anak yang kukira masih tingkat sekolah dasar untuk mengimami sholat tersebut. Ku lihat dia tengah sibuk membolak balikkan al-qur’an, sepertinya ia ingin memilah surat apa yang akan dibacanya. Aku hanya memperhatikan dari kejauhan.

Lalu anak itu memulai sholat dengan takbiratul ihram, dilanjutkan membaca Alfatihah dan surat Qaf. Dirakaat kedua setelah Alfatihah dia melantunkan surat Al’adiyat dengan cepatnya. Sholatpun usai, aku tengah berpikir tentang kedua imam sholat tadi, aku rasa mereka berdua adalah ayah dan anak, karena ku lihat sang ayahlah yang memrintahkannya kepada anaknya untuk menjadi imam.

Disini aku bukannya ingin membahas secara khusus tentang anak dan bapak tersebut, aku cuma teringat tentang statement seseorang tentang presiden Mesir, Dr. Muhammad Mursi. Beliau adalah orang yang hafal al-qur’an seperti darah dagingnya sendiri. Dan di dalam rangkaian sholat jamaah tersebut aku dapat melihat implementasi dari statement tersebut. Wallahu yufta alaihima, tidak hanya mereka bertiga, sebagian rakyat Mesir juga banyak yang hafal alqur’an tiga puluh juz diluar kepala mereka, tidak dapat terpisahkan, bak daging yang melekat kepada tulangnya sedemikian rupa, alqur’an menjadi layaknya makanan mereka sehari-hari. Subhanallah.

Allahummahfadz Misra wa ahlaha. Allahumma innaka afuwun tuhibbu afwa fa’fu ‘anni. (02.41 06/08/2013)

Gambar

Iklan