Menjemput “assa” di Sinai, Mesir

Wah ini tulisan saya dahulunya ketika di Blogspot. Iseng-iseng diterbitkan kembali, sekalian reunian “kenangan’, hehe. Cek It Dot. 😀

Tak terasa waktu telah bergulir lama semenjak kedatanganku ke negeri kinanah ini, negerinya para nabi. Ini semua merupakan karunia Allah Ta’ala yang tidak terhitung betapa besarnya anugrah-Nya Ta’ala kepadaku. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Bak air yang mengalir diatas tanah, dia akan terus mengalir hingga dataran rendah terakhir yang ditemuinya. Begitupun dengan kehidupan kita bersama, walaupun kita ingin berhenti waktupun akan tetap terus berjalan tiada henti, dan inilah yang kurasakan selama ini. Setelah selesai menghadapi ujian semester awal di Universitas Al-Azhar-walaupun berjuang dengan mati-matian dikarenakan telat menyadari akan urgensitas pendidikan Al-Azhar, mudah-mudahan najah .Amiin, kami-pelajar Al-Azhar dari minang, menghabiskan waktu liburan kami salah satunya dengan mengunjungi daerah Sinai, tempat Nabi Musa ‘Alaihissalam menerima wahyu pertamanya secara langsung dari Allah Subhanawata’ala tanpa perantara selama 40 hari 40 malam seperti yang termaktub di dalam surat Al-Baqarah. Perjalanan ini berawal dari Rumah Gadang Pelajar Minang Mesir, dan menempuh jarak yang lebih kurang 400 KM. Selama di perjalanan kami banyak menemukan halangan dan rintangan berupa penutupan jalur oleh militer Mesir dikarenakan alasan keamanan. Akhirnya kami memilih jalur alternatif, dan menuntut kami untuk kembali kebelakang sejauh 70 km kurang lebih.

Tahukah antum, daerah Sinai merupakan perbatasan ntara negara Mesir dengan Israel dan juga daerah Sinai, termasuk daerah Mesir yang terdapat di kawasan Asia. Dan untuk menuju Sinai dari ibukota Mesir, Kairo kita mesti melewati sebuah terusan, yang dinamakan dengan Terusan Suez. Terusan yang menghubungkan antara benua Afrika dan benua Asia.

Setelah berjalan cukup lama, akhirnya panitia memutuskan untuk berhenti sejenak dahulu di ‘Uyun Musa, atau mata air nabi Musa. Di tempat ini, kami menemukan salah satu dai mata air nabi Musa yang mana dalam sejarahnya nabi Musa memukulkan tongkatnya sehingga muncullah 12 mata air yang menjadi pusat kehidupan bagi 12 belah kabilah dimasa itu. Dan dari ‘Uyun Musa ini kita dapat menikmati pemandangan laut merah yang merupakan lautan yang memakan hidup-hidup Fir’aun dan para tentaranya.

Setelah cukup berfoto dan menikmati alam sekitar, akhirnya perjalanan pun dilanjutkan hingga sampailah kami di kawasan Sinai pada shubuh harinya dalam keadaan cuaca hujan. Sholat shubuhpun telah didirikan, kemudian dilanjutkan dengan musyawarah antar  peserta rihlah dengan panitia yang pada akhirnya memutuskan untuk tetap mendki bukit Tursina, walaupun dalam cuaca gerimis yang cukup lembat ditambah dengan kondisi puncak yang mencapai minus -4 derjat Celcius serta waktu yang cukup mendesak untuk naik-turun bukit Tursina tersebut dikarenakan keterlambatan kedatangan, yang mana mestinya kita sudah mulai mendaki pukul 1 dinihari pagi tadi. Akan tetapi itu semua tidak memadamkan api semangat kami untuk terus mendaki.

Akhirnya persiapanpun selesai, dengan ditemani seorang pemandu kami mulai mendaki ke atas puncak. Tidak terasa bagiku, yang mana belum pernah mengalami hala seperti ini, menjadi sangat berat, akan tetapi kulihat ke samping ternyata tidak diriku seorang yang mengalami kelelahan ini. Bahkan ada sebagian yang berkata “baa lah yo kalau Nabi Musa yang mandaki, pasti barek juo nak?”, akupun tersenyum sembari tetap melangkahkan kakiku satu persatu menuju puncak. Didaerah kawasan bukit Tursina ini, anda hanya akan mendapatkan bukit-bukit batu sepanjang mata memandang, memang inilah Mesir. Walau dengan bersusah payah dan istirahat yang cuma sedikit, akhirnya kami memutuskan untuk rehat sejenak mengisi perut dengan makanan asli kampung kami, mie rebus Indonesia. Setelah merasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit tursina, tidak terasa ternyata puncak yang kami harapkan kehadirannya berhasil kami pijak, bersyukur atas hal itu.

Sesampai di puncak, kami memasuki sebuah mushalla dan beristirahat sejenak, tak jauh dari meshalla itu terdapat sebuah gereja, dan kurasa itu adalah gereja koptik. Setelah puas memandangi dan beristirahat, akhirnya aku memutuskan untuk turun kembali dikarenakan tak kuasa menahan dinginnya hari di puncak tursina ini.  Akhirnya kami turun dengan keadaan yang sudah basah kuyup diguyur hujan gerimis yang semakin kencang. Dan akhir kata samapailah kami di tempat pemberhentian bus, stelah menukar pakaian panitia memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju sebuah pantai-saya lupa nama pantainya, dan kesebuah tempat perbelanjaan terkenalSuq Qadiim, atau kita bisa menyebutnya dengan Old Market.

Ditempat ini, bisa kita dapati tempat yang rasanya nuansa relijiusnya sudah agak berkurang. Mungkin dikarenakan tempatnya yang jauh dari pusat kegamaan di Mesir. Dan kami tidak berlama-lama disini, hanya 1 jam. Setelah puas berkeliling, dan disini aku menjadi pusat perhatian orang mesir, dikarenakan memakai sarung berputa-putar ditengah pasar-saya memakai sarung dikarenakan celana saya basah diguyur hujan di Tursina, dan pada akhirnya bus jemputan kami datang.

Di dalam perjalanan pulang saya mendapati jam sudah menunjuki pukl 8 malam lewat, dan saya kira perjalanan pulangpun akan memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya sesuai dengan apa yang perkirakan, kamipun sampai di tempat peristirahatan pelajar Minang pada waktu menjelang shubuh.

Ini akhir dari kisah perjalanan yang mengandung unsur spritual. Karena saya mendapatkan disini bukti nyata dari apa yang telah termaktub di dalam Al-Qur’anul kariim. Mulai dari mata air Musa sampai ketempat nabi Musa menerima wahyu pertamanya. Sayangnya karena krena waktu yang singkat, kami tidak sempat mengunjungi makam nabi Harun ‘Alaihisslam berserta tempat tegaknya asnam Samiri la’natullah ‘alaihi.

SAM_0156

Moga cerita ini bisa menjadi Inspirasi tertentu bagi teman-teman. Salam hangat dari Rumah Gadang Pelajar Minang Kairo Mesir. (28 Januari 2013)

Iklan