Rihlah II ke Provinsi Syarqiyah, Mesir.

SAM_2775Dua hari belakangan ini aku pergi mengunjungi provinsi Syarqiyah di Mesir. Ini sudah kali keduanya aku mencoba untuk menginjakkaan kaki disana. Perjalanan dimulai dari Darrasah, Husein menuju Hay ‘Asyir kemudian Mahattah Zahra’ da pada akhirnya sampailah kami di tempat tujuan kami Zagaziq, ibukota provinsi Syarqiyyah tepat pada pukul Sembilan malam. Dan akupun mulai menanti sebuah bus mini untuk bisa sampai di rumah kakak kelasku.

Tidak ada yang perubahan yang terasa ketika aku mulai memandang  sekeliling tempat kami berpijak. Dimulailah dengan singgah kerumah kakak kelasku, Aziz Zainuri. Tidak hanya sampai disana, aku tidak disuguhi teh terlebih dahulu, melainkan dengan kata-kata “mari bermain futsal. Yah, badan ini sudah cukup merasakan beban berat seharian selama menyandang ransel seberat lima kilogram lebih, setidaknya ini menyiksaku sepanjang perjalanan. Dengan berat hati, kupaksa tegak badanku dan aku mulai memanggil sahabatku, Isa untuk ikut serta. Sesampai di lapangan, kulepaskan rindu kaki-kaki ini untuk kembali berlari kian kemari.

Tidak terasa hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, akhirnya permainanpun berakhir. Aku,Isa dan beberapa kakak kelasku pun memutuskan untuk kembali pulang dan beristirahat. Sesampainya dirumah, memang air mineral adalah suatu kebutuhan primer yang tidak bisa kulepaskan pasca memacu lari tubuh ini, dan akhirnya, byurr bunyi air mengalir turun disekujur tubuhku membuahkan sensasi nikmat tersendiri ditengah kelelahan yang berlipat-lipat ditengah kepenatan ini. Dan momen tidurpun pada akhirnya menjadi penutup seluruh kegiatanku malam ini.

Besok harinya, aku mulai menghabiskan seluruh waktuku dengan tetap berada didalam rumah sembari menatap layar komputer, memang udara Mesir musin panas ini membuat tubuh ini mulai merasa malas untuk merangkak keluar, walau hanya untuk menikmati  segelas air tebu dingin. Disore hari, semua keinginan kami terpenuhi dengan kedatangan kakak kelasku, Aziz membawakan beberapa bungkus air tebu dingin, uh betapa lega dan nikmatnya. Pada malam harinya kami putuskan untuk pergi menikmati suasana malam Jum’at di ibukota provinsi Syarqiyah tersebut, dan kami memutuskan untuk pergi mengisi pundi-pundi air kami yang sudah mulai menguap seharian ini. Kami mengunjungi sebuah coffeeshop, Baleno. Akupun memesan mocca flavor dan Isa beserta kakak kelas ku lainnya memesan chocolate flavor dingin. Kami menikmati seduhan minuman tersebut sembari bertukar cerita, dan ketika sampai di penhujung terakhir sedotan, kami memutuskan untuk pergi ke Mahattah,berdekatan dengan kantor gubernur provinsi Syarqiyah. Disana kami memilih untuk duduk-duduk ditepi jembatan seraya menikmati syahdunya hembusan angin  malam yang mengalir lembut melewati barisan kami. Setelah puas melihat kesana kemari, akhirnya perjalanan kami pun harus menemui ajalnya, dengan kembali pulang menuju rumah peristirahatan. Kali ini aku dan Isa memilih untuk pergi menginap di rumah senior kami yang tertua, di rumah abang kami, Ardi. Dengan posisi rumah yang berada di lantai teratas, memaksa kami untuk melangkahkan kaki ini sampai menuju kelantai tujuh, pengirbanan ini akhirnya terbalaskan dengan sejuknya udara yang menerpa muka kami yang tamapak kecapaian. Setelah berbenah, akupun mulai peralahan-lahan tertidur didalam ayunan mimpi yang cetar lagi membahana.

Pagipun menjelang, dan seusai melaksanakan sholat shubuh, kuputuskan untuk melihat-lihat keluar, luar biasa indahnya, ini semua sungguh sangat berbeda dengan Kairo tempatku tinggal. Di Kairo yang seringkali kutemukan hanyalah tumpukan sampah yang banyak bertebaran disana-sini. Indahnya kota Zagaziq kala itu mempunyai kesan tersendiri bagiku. Tak berjelang lama setelah itu, telepon genggamku bordering, ternyata dari bang Riski yang menginfokana bahwa pagi ini kami mesti balik ke Kairo, dikarenakan salah seorang kakak kelasku, Zakir harus mengikuti suatu rapat organisasi yang konsentran terhadap Al-Qur’an. Akhirnya, walau dengan kesah sedikit dihatiku, ku mulai membenahi diri dan ranselku untuk bersiap-siap kembali ke Kairo.

Setelah aku berpamitan dengan kakak-kakak kelasku di Zagaziq tersebut, akhirnya bertolaklah kami berempat menuju kota Kairo, kota tempatku menuntut ilmu agama dan pengalaman. Sampailah kami pada waktu menjelang terdengarnya kumandang azan, yang menandakan akan dimulainya khutbah Imam sholat Jum’at.

Setelah sholat Jum’at selesai, ku sempati diriku untuk menikmati tugin, makanan asli khas Mesir. Selesai menyantap dengan lahap, kulanjutkan perjalanan menuju rumah bang Riski untuk mulai beristirahat sejenak sembari mengumpulkan tenaga yang sudah hilang. Ditelevisi ku tidak sengaja aku mendengarkan sorakan demonstran yang menolak untuk diturunkannya presiden Mesir saat ini, Dr. Muhammad Mursi. Ini menjadi santapanku setelah terbangun dari tidur dan pasca menegakkan sholat Ashar hingga menjelang Maghrib yang sekaligus menandakan telah berakhirnya demo tersebut. Akhirnya aku, Isa dan bang Riski memutuskan bertolak pergi ke Husein tempat dimana aku dan Isa tinggal, bang Riskipun harus berpisah dengan kami dikarenakan hajat yang berbeda sejak awal dengan kami.

Sesampainya di Husein, kulangkahkan kaki bersama Isa menuju tempat peristirahatan kami. Dan sekarang saatnya bagikui untuk merebahkan badan dan merefreshkan otak yang sudah mulai merasakan sakit semenjak siang hari tadi. Summer Cairo, nantikan cerita liburan dariku berikutnya. Dhanke.

Iklan